Archives

langit suam-suam kuku

pagi ini, tak terlihat mendung
tak ada juga pijaran mentari
akankah hujan hari ini?
ataukah cerah sepanjang hari?

langit suam-suam kuku
membuatku cemas tak menentu
tak jelas apa yang menanti
saat tiba di penghujung hari

itukah alasan tak disukai
suam-suam kukunya hati
tak panas, tak juga dingin
tak menunjukkan kepastian hati

langit suam-suam kuku
memberikan gambaran pasti
kulit luar terlihat teduh
tak bisa ditebak hasil yang menanti

janganlah suam-suam kuku hatiku
pilihlah satu yang pasti
jangan seperti langit suam-suam kuku
yang terbentang di pagi ini

goresan hati
Jakarta, 28 Nov 2013

Advertisements

Unik Candanya

Di ufuk timur
matahari tersenyum sipu-sipu
menghalau kabut yang menyaput
meniupkan kehangatan pagi

Akankah cerah hari ini
saat hujan suka unjuk diri
di hari-hari yang telah lalu?
entah pagi, siang, malam, subuh
tanpa diundang hujan pun turun

Terang surya sering tertepis
namun tak selalu ia mengalah
kala deras hujan menerpa
surya pun menyorotkan sinarnya
langit penuh kemilau jingga
sungguh unik canda sang Pencipta

Jakarta, 6 Juli 2013
PS. the first of two sentences are written by Amin 🙂
Thanks for the inspiration to write this poem

kelana jiwa

mendung menggantung di pagi ini
awan putih pun lebih suka bersembunyi
akankah hujan lagi hari ini?

kadang mendung, kadang cerah
siapa yang bisa menduga cuaca?
saat pagi menyapa
sang surya gilang gemilang sinarnya
saat siang menjelang
awan hitam bergelayut menutupinya

adakah yang pasti dalam hidup ini?
kadang tawa, kadang murka
kadang canda, kadang duka
kadang berseri, kadang bermuram hati
ada hidup, ada mati

asa melayang, jiwa berkelana
hati pun mengembara
mencari tempat bertambat
sepasti datangnya hari

celoteh mendung, 4 Juli 2013

tegak

meranggas

meranggas? bukan!!
dihajar lahar panas
dalam hitungan jari
ubah wajah Merapi

batang pepohonan
terserak….
terhempas…
tak berdaya…
melawan hantaman kuasa

tapi lihat…
beberapa tetap tegak
menantang, teguh berdiri
meski kerontang kering

adakah akar tersisa?
menopang asa
lanjutkan usia?

cerita lama

satu kata
menguak luka

Kaliurang tempatnya
sungguh menikmati
saat mendaki
menyaksikan keindahan Merapi
bertukar cerita
berbagi pengalaman
sungguh menyenangkan

sukacita terhempas
saat kecaman menerpa
berawal dari rute yang berbeda
akhirnya menuai bencana

Cemarasewu tempatnya
Tak lelah mata terpana
menyaksikan hamparan hijau
sejauh mata memandang
mencari jejalanan
yang jarang diitemukan
2-3 jam perjalanan
turun, mendaki, lewat pematang
akhirnya sampai
di wilayah percandian
sungguh perjalanan
yang tak melelahkan
dibayar oleh pemandangan
yang tak pernah lekang

Keceriaan di hati
ingin membuat canda
kami sengaja sembunyi
untuk menciptakan kejutan
namun tak sesuai rencana
canda menjadi bencana
kejutan yang kami siapkan
menuai amukan
seribu bahasa kami terdiam
mata pun berkaca-kaca
hati terluka
perjalanan pulang yang menyiksa

sungguh hanya 1 kata
K-a-l-i-u-r-a-n-g
cerita lama pun
menari-nari lagi

goresan kata, Jakarta, May 11th, 2011

Ah . . .

Ah, dia akan mengajariku sesuatu
Namun tidak seperti biasa dia melatihku
Dia mengusikku dengan pelajaran baru
Diambilnya aku dari tempat nyamanku
Aku menjerit tertahan
Air mataku jatuh berlinang
Tetapi dia tetap tegar mengajar
Ah, pelajaran apa yang akan kuterima
Harus seperti inikah caranya?
Kucari … dan terus kucari …
Suatu kepastian dan keteguhan hati
Untuk terus memandang sang pembimbing sejati
Dan meniti jalan-jalan baru yang harus kulalui
Walau tanpa kekasih hati

(Jakarta, 22 Agustus 2006)

Wajah Kecil Itu

Wajah kecil itu tertawa lepas …
“Monyet!” teriaknya saat ku garuk-garuk kepala
Wajah kecil itu merajuk manja …
“Bikinkan teh manis ya.” pintanya saat ku sedang santai
Wajah kecil itu tersenyum …
“Aku sayang kamu, Kak.” katanya saat kucium wajahnya
Wajah kecil itu meneteskan air mata …
“Aku tidak mau kakak pergi.” isaknya saat ku akan berpisah dengannya
Wajah kecil itu berlinang air mata …
“Kak, jangan pergi” pintanya saat kumasuk ke dalam kereta
Wajah kecil itu menangis tersedu-sedu …
“Kak ….” jeritnya saat kereta membawaku melaju
Wajah kecil itu … menahan pilu dan dia pun masih tersedu
Saat terbayang wajah kecil itu …
Demi masa depannya aku mengembara
tapi berpisah dengannya membuatku tersiksa
Wajah kecil itu … membayangi terus langkahku
memacuku untuk maju … walaupun rasanya pilu

(Solo, 21 Agustus 2006)