Archives

Ah . . .

Ah, he will teach me something
But not as usual he trained me
He teases me with a new lesson
He takes me out from my comfort zone
I cries out in shock
My tears are falling hard
But he continues to teach me
Ah, what lesson will I learn?
Should it be like this?
I am looking around
and keep looking . . .
Reaching a determination
To look at my true counselor
Walk through the rough roads ahead
only sustain by his love for me,
makes me brave enough
to let go things I adore more.

Reference: Jeremiah 29:11

Jakarta, 27 February 2018

Advertisements

Wandering Soul

This morning . . .
grey clouds are hanging in the sky,
the white ones prefer to hide.
Will it rain again today?

Sometimes cloudy, sometimes bright
Who can guess the weather in a day?
When the morning greets us,
the sun shone brightly.
When the noon comes,
suddenly black clouds cover the sky.

Is there anything definite in this life?
Sometimes you laugh, other times angry,
sometimes you hear jokes, other times you grief,
sometimes you glow, sometimes moody your soul.
There will be life. There will be death.

Hope flies away, the soul wanders,
the heart searches for answers
looking for a solid place
as surely as the sun rises.

Reference: Ecclesiates 3:1-15

Jakarta, 21 February 2018

langit suam-suam kuku

pagi ini, tak terlihat mendung
tak ada juga pijaran mentari
akankah hujan hari ini?
ataukah cerah sepanjang hari?

langit suam-suam kuku
membuatku cemas tak menentu
tak jelas apa yang menanti
saat tiba di penghujung hari

itukah alasan tak disukai
suam-suam kukunya hati
tak panas, tak juga dingin
tak menunjukkan kepastian hati

langit suam-suam kuku
memberikan gambaran pasti
kulit luar terlihat teduh
tak bisa ditebak hasil yang menanti

janganlah suam-suam kuku hatiku
pilihlah satu yang pasti
jangan seperti langit suam-suam kuku
yang terbentang di pagi ini

goresan hati
Jakarta, 28 Nov 2013

Unik Candanya

Di ufuk timur
matahari tersenyum sipu-sipu
menghalau kabut yang menyaput
meniupkan kehangatan pagi

Akankah cerah hari ini
saat hujan suka unjuk diri
di hari-hari yang telah lalu?
entah pagi, siang, malam, subuh
tanpa diundang hujan pun turun

Terang surya sering tertepis
namun tak selalu ia mengalah
kala deras hujan menerpa
surya pun menyorotkan sinarnya
langit penuh kemilau jingga
sungguh unik canda sang Pencipta

Jakarta, 6 Juli 2013
PS. the first of two sentences are written by Amin 🙂
Thanks for the inspiration to write this poem

kelana jiwa

mendung menggantung di pagi ini
awan putih pun lebih suka bersembunyi
akankah hujan lagi hari ini?

kadang mendung, kadang cerah
siapa yang bisa menduga cuaca?
saat pagi menyapa
sang surya gilang gemilang sinarnya
saat siang menjelang
awan hitam bergelayut menutupinya

adakah yang pasti dalam hidup ini?
kadang tawa, kadang murka
kadang canda, kadang duka
kadang berseri, kadang bermuram hati
ada hidup, ada mati

asa melayang, jiwa berkelana
hati pun mengembara
mencari tempat bertambat
sepasti datangnya hari

celoteh mendung, 4 Juli 2013

tegak

meranggas

meranggas? bukan!!
dihajar lahar panas
dalam hitungan jari
ubah wajah Merapi

batang pepohonan
terserak….
terhempas…
tak berdaya…
melawan hantaman kuasa

tapi lihat…
beberapa tetap tegak
menantang, teguh berdiri
meski kerontang kering

adakah akar tersisa?
menopang asa
lanjutkan usia?

cerita lama

satu kata
menguak luka

Kaliurang tempatnya
sungguh menikmati
saat mendaki
menyaksikan keindahan Merapi
bertukar cerita
berbagi pengalaman
sungguh menyenangkan

sukacita terhempas
saat kecaman menerpa
berawal dari rute yang berbeda
akhirnya menuai bencana

Cemarasewu tempatnya
Tak lelah mata terpana
menyaksikan hamparan hijau
sejauh mata memandang
mencari jejalanan
yang jarang diitemukan
2-3 jam perjalanan
turun, mendaki, lewat pematang
akhirnya sampai
di wilayah percandian
sungguh perjalanan
yang tak melelahkan
dibayar oleh pemandangan
yang tak pernah lekang

Keceriaan di hati
ingin membuat canda
kami sengaja sembunyi
untuk menciptakan kejutan
namun tak sesuai rencana
canda menjadi bencana
kejutan yang kami siapkan
menuai amukan
seribu bahasa kami terdiam
mata pun berkaca-kaca
hati terluka
perjalanan pulang yang menyiksa

sungguh hanya 1 kata
K-a-l-i-u-r-a-n-g
cerita lama pun
menari-nari lagi

goresan kata, Jakarta, May 11th, 2011