Archive | May 2016

Ghost (Writing) Clinic

A friend of mine told me several months ago that she will join a writing workshop by the end of May. I simply asked her how to join the workshop. Everything with ghost in writing interest me 🙂 . . . though I am not a writer.I can only write daily stories, a kind of diary, and just short stories. Start from rarely to write in 2015 to update my private blow until I don’t write anymore. I just feel that I can’t write and my writings just an ordinary ones, not good and not interesting. That is the reason I like to write as a ghost by using pseudonym. Mostly readers don’t know that it was my writing. But several of my close friends can guess it by reading the writing style I use. Even now, it is a struggle for me to write the opening sentence. When reading my old writings, I don’t remember how can I write all the sentences. Some of my friends said that I need to practice and start to write article for blog. Don’t they know my struggle that I don’t feel confidence with my own writings? Or is it because I’m too afraid to get some critics? Or afraid that reader will say that it is a bad writing ever? Or I don’t want to practice or to try again? Or still I can’t let go my old wounds which hurt my heart deeply?

No matter the reasons are, I just know that I’m lazy to write and provide so many excuses not to write anymore. So when joining the ghost writer clinic, I meet the great speaker. She is an editor who becomes a fiction writer, a wellknown ones. Again she reminds us about practice, practice, and practice to increase the writing skill. That’s the difficult task for me since I never write anymore. But she bewitches me with the writing process of Negeri Para Roh. She gives several practice ways how to sharpen our writing skills. It seems that she says, “Don’t be afraid to write! You write to satisfy your soul and heart, no matter others will say!” Can I do that?

That’s the reason which make me shock since I’m one of two participants who won the main doorprize: this great writer, Rosi L. Simamora, will coaching me personally to write something, until the end of December 2016! All the participants want this doorprize and I’m the one who get it, but still I don’t believe it . . . what will I write? This is a great opportunity, but I don’t know how to use it . . . these questions come up in my mind when the MC invites me to go to the front and shake hand with mbak Rosi. It is not a dream, but still I can’t believe it. Even mbak Rosi can read it through my face . . .

Yes, it will be my good chance to write again. But the big question is, what will I write? Don’t know yet . . .

 

My room, 29 May 2016

 

merayap

Puluhan kendaraan mengular memenuhi dua ruas jalan menuju Semanan. Dari arah berlawanan, kendaraan-kendaraan yang muncul menahan guliran rodanya saat angkot yang kutumpangi meliak-liuk mencari jalan. Lalu terdengar sapaan bersamaan gemerincing recehan yang berpindah tangan dari pengemudi ke telapak penjaga rel kereta . . . memuluskan jalannya angkot untuk melintas pertama. Saat mendekati simpang Semanan, pejalan kaki pun menang telak melawan angkot sang raja jalanan. Ada terselip bangga karena tak satu pun keluh terucap dari mulut pengemudinya. Namun peluh tak bisa kubendung. Hawa panas makin meraja lela dan klakson pun unjuk suara. Hebatnya mulut pengemudi tetap terkunci, tapi jemarinya lincah memainkan bunyi, mengusik telinga. Bunyi mereda saat simpang berhasil ditembus dan angkot itu melaju mengantarku.

Semanan, 28 Mei 2016—#latihan 1
gaya tulisan lebay dot com 🙂 (#dibuangsayang)

Negeri Para Roh

negeri-para-roh-cover

Publisher: Gramedia Pustaka Utama
Publish Date: Nov 30, 2015

Novel ini merupakan kisah fiksi yang ditulis dengan apik berdasarkan kisah nyata 6 Juni 2006 yang dialami 5 insan saat longboat yang mereka tumpangi dijungkirbalikkan dahsyatnya ombak di tengah lautan Arafuru.

Dua kubu berkecamuk di medan benak . . . antara perasaan enggan dan perasaan sayang . . . selesai membaca buku karya Rosi L. Simamora. Namun perasaan sayang jika tak menuliskan apa yang kutemukan menjadi pemenang telak saat menuliskan tiap kata ini.

* Seperti naik roller-coster
Saat jiwa terkesiap manakala longboat dijungkirbalikkan di tengah lautan yang mengganas, tiba-tiba bab selanjutnya menenangkan jiwa dengan kilas balik cerita. Sesaat setelah tertawa mendengar keusilan Senna yang menggoda Sambudi dan obrolan Bagus dengan Hara, jiwa pembaca kembali dibawa membubung dengan hentakan gelora badai lautan . . . mencekam saat membaca perjuangan mereka. Lalu dibawa turun lagi dengan mengulas latar belakang cerita . . . lalu kembali lagi ke peristiwa celaka . . . sungguh piawai penulisnya menghentak jiwa pembaca bukunya.

* Sulitnya lepas dari masa lalu
Terkadang pahitnya luka karena cinta membuat seseorang memuntahkan sakitnya pada orang lain yang tak tahu kelamnya masa lalu dan siapakah lakon dalam buku ini yang sangat pas menggambarkannya? Pertemuannya dengan Hara memicunya untuk menguarkan ketidaksukaannya meski sebenarnya ia tak bermaksud melakukannya. Namun apa daya, semburan mulut yang tak bisa dikendalikannya sempat menggoreskan luka. Uniknya saat membaca celetukan Senna yang menggodanya, mulutku terbahak tertawa. Ingin tahu candanya?

* Berkutat dengan rasa kehilangan
Kental sekali gambaran tentang perjuangan batin Senna untuk bisa melepas kepergian sahabatnya, Bagus. Sampai halaman terakhir selesai dibaca, aku pun merasa tak terima dan terus bertanya apa yang terjadi pada Bagus. Secara nalar, ia berpeluang paling besar untuk selamat dari amukan badai Arafuru karena bisa berpegang di longboat dan ditemani Lucky dan Agus, tukang perahu yang paling piawai menguasai medan yang menggelora. Jadi bisa kebayang pergumulan Senna yang terus mempertanyakan di mana letak salahnya, ke mana perginya Bagus, susahnya untuk menerima kepergian Bagus untuk selamanya…karena tak ada bukti jasadnya. Apa yang dilakukan Senna untuk bisa melepas kepergian sahabatnya?

* Belajar memahami arti cukup dan dicukupkan
Drybox, gosong pasir, hujan, siput, kepiting, botol aqua yang masih ada setengah isinya, pulau tak bertuan yang tak terengkuh pasang . . . hal-hal sederhana yang dipakai sang Pencipta untuk mencukupkan kebutuhan empat jiwa yang berjuang melawan amukan gelombang di tengah laut Arafuru. . . . bagaimana bisa?

* Berkutat dengan rasa tak percaya diri
Tipikal gadis berada yang dimanja dan selalu dilindungi keluarga termasuk memilihkan segala sesuatu dalam hidupnya . . . tiba-tiba Hara memutuskan untuk mencoba sebagai presenter program Petualang dan entah bagaimana nasib bisa memilihnya untuk melanglang ke negeri para roh. Apakah petualangan itu bisa membentuk nyalinya?

* Kala iman dan keyakinan mistis beradu
Siapa yang mau bergulingan di lumpur ? Itulah budaya Asmat supaya roh orang yang meninggal tak mengusik raga, orang-orang yang hidup pun bergulingan di lumpur agar tak terendus baunya oleh roh si orang mati. Tetua meminta Bagus berguling di lumpur juga . . . tetapi ia menolak karena lebih memilih untuk berpihak pada imannya . . . itukah penyebab tak panjang usianya? Enam-enam-enam . . . 6 Juni 2006 . . . apakah karena kombinasi angka itu peristiwa nahas tersebut terjadi?

* Menggeluti segala kisah dunia roh
Menggeluti budaya Asmat dan tradisi pengayauan yang pernah mereka lakukan mewujud dalam kisah-kisah memikat sang pencerita dan juga Totopras. Saat mulut membeku melihat keteguhan Bagus meski pengalaman yang sama pernah dirasakan Topras sesaat sebelum kakak tersayangnya meregang nyawa. Dapatkah segala legenda tua dipercaya?

* Sekilas mengintip budaya dan tradisi suku Asmat
Saat membaca buku ini, pikiran diajak mengembara untuk mengenal sekilas suku di pedalaman Papua . . . budaya, tradisi, rumah, tanah, roh, keyakinan, pepohonan, . . . menambah kekayaan benak melalui dongeng yang dituturkan si pencerita tua.

* Saling menyemangati dan memberi perhatian
Saat ketakutan mencengkeram hati hati, ada Bagus dan Totopras yang memberikan suntikan semangat lewat obrolan, diskusi, dan cerita. Saat Sambudi menyerah kalah karena malaria, tangan Hara terus merawat orang yang membuat hatinya terluka. Saat Sambudi memeluk erat kamera di tengah gulungan ombak laut, saat Sambudi enggan berpisah dengan sepatu kesayangannya meski badan sangatlah penat setelah diombang-ambingkan badai . . . ada Bagus, Senna, dan Hara yang dengan lembut menghardiknya. Berhasilkah?

* Guilty feeling
Andai aku tak memaksa pulang hari ini . . . andai aku sabar menantikan jadwal penerbangan berikutnya . . . andai aku mendengar peringatan si pencerita renta . . . andai Bagus tak terpisah dari kami berempat . . . segala andai yang membuat hati merana . . .

* Kepiawaian menggali cerita
Tidak sekadar menulis . . . riset, kunjungan, wawancara dengan orang yang bersinggungan dengan peristiwa 6-6-2006, buku-buku bacaan yang dilahap, akses di dunia maya, bertemu pada tetua adat . . . demi memadukan kisah nyata yang membuat terpana, disisipi pernak-pernik budaya Asmat yang keramat dengan untaian kata-kata memikat jiwa . . . sungguh penulis yang luar biasa.

* Bacalah bukunya dan temukan sendiri harta Anda 🙂

Jakarta, 24 Mei 2016