Archive | July 2013

Unik Candanya

Di ufuk timur
matahari tersenyum sipu-sipu
menghalau kabut yang menyaput
meniupkan kehangatan pagi

Akankah cerah hari ini
saat hujan suka unjuk diri
di hari-hari yang telah lalu?
entah pagi, siang, malam, subuh
tanpa diundang hujan pun turun

Terang surya sering tertepis
namun tak selalu ia mengalah
kala deras hujan menerpa
surya pun menyorotkan sinarnya
langit penuh kemilau jingga
sungguh unik canda sang Pencipta

Jakarta, 6 Juli 2013
PS. the first of two sentences are written by Amin 🙂
Thanks for the inspiration to write this poem

Advertisements

kelana jiwa

mendung menggantung di pagi ini
awan putih pun lebih suka bersembunyi
akankah hujan lagi hari ini?

kadang mendung, kadang cerah
siapa yang bisa menduga cuaca?
saat pagi menyapa
sang surya gilang gemilang sinarnya
saat siang menjelang
awan hitam bergelayut menutupinya

adakah yang pasti dalam hidup ini?
kadang tawa, kadang murka
kadang canda, kadang duka
kadang berseri, kadang bermuram hati
ada hidup, ada mati

asa melayang, jiwa berkelana
hati pun mengembara
mencari tempat bertambat
sepasti datangnya hari

celoteh mendung, 4 Juli 2013

kehendak-Mu atau kehendakku?

“Aku mau tas sekolah, warna pink,” kata Kiki via telepon.
Saat pulang ke Solo membawakan tas itu, kekecewaan menghiasi wajahnya. “Kenapa, dik?”
“Kok ga ada trolley-nya, budhe? Yang gambarnya Princess?”
Kupandang tas yang kubawa, memang tas sekolah, warna pink dengan gambar kucing hello-kitty. Tas lumayan besar yang muat untuk buku-buku sekolahnya, tetapi itu tak cukup memuaskannya.

Aku pun sering bersikap demikian dalam kehidupan doaku. Setiap doa yang kunaikkan, aku sudah memiliki skenario jawaban yang kuinginkan. Aku kecewa saat doaku tidak terjawab. Bukan karena Allah itu hening atau tidak mau menjawab, tetapi karena jawaban yang diberikan-Nya tak sesuai dengan yang kumau 😦

Sebenarnya doa lebih merupakan cara dimana aku bisa semakin mengenal Allah, semakin tahu kehendak-Nya, dan bagaimana hidupku bisa selaras dengan kehendak-Nya itu.

Namun prakteknya, seolah dengan doaku, aku meminta Allah untuk bertindak sesuai dengan keinginanku. Toh aku tidak berdoa demi kepentinganku sendiri. Aku berdoa agar si A sembuh, agar hubungan si B dan si C dipulihkan, agar diberi guru yang cukup bagus untuk melayani… Jawaban yang kuterima: si A dipanggil-Nya, si B pindah gereja karena tak mau lagi berurusan dengan si C, guru-guru yang ok justru resign dari pelayanan. So, does God really care about me? Sepertinya ini bukan karena Allah tidak mempedulikanku, tetapi karena jawaban-jawaban doa yang kuterima sama sekali tidak seperti yang kuharapkan…itu yang membuatku sering kecewa.

Dalam diskusi yang dilakukan oleh Haddon Robinson, Alice Mathews, dan Philip Yancey yang ditayangkan pagi ini, ada beberapa poin bagus tentang doa yang tidak terjawab.

1. God is not my accomplice to do my work, God is the work itself.
2. Prayer is a matter of trust, whatever the answer is and how silence God is, do I still believe in Him?
3. In my prayer, how can I be in line with His will rather than my own will?

Tayangan ini seperti me-recharge lagi baterai energi yang terhisap setiap kali kekecewaan melanda karena doa yang tidak terjawab…sesuai dengan keinginanku.

Belajar untuk mengatakan, “Jadilah kehendak-Mu, dan bukan kehendakku.”

Rabu, 3 Juli 2013