Archive | August 2012

selamat jalan

Aku tak pernah sekalipun tahu kapan Bapak datang. Karena terlalu sering muncul dan menginap di kos kami, Bapaknya Amak (panggilan sayang untuk Lia) sudah kami anggap sebagai Bapak kami sendiri. Ada juga yang memanggilnya “Ayah”.

Bapak tak pernah kehabisan satu cerita pun dan dia mengenal satu per satu teman kos Lia dan selalu mengajak ngobrol. Sungguh mengagetkan aku saat kemarin sore mendapat berita dari Nanda jika Vivi kirim via BBM untuk mengabari kepergian Bapak (20 Agustus 2012–lebaran hari kedua di tahun 2012). Seakan tak percaya mendengar kepergian Bapak. Terakhir kabar dari Lia saat kami bukber (4 Agustus 2012) bahwa Bapak sedang dirawat di rumah sakit karena tabrakan dan kakinya patah.

Untuk memastikan berita, aku segera tanya ke Nunung dan berita itu memang benar adanya. Bapak terjatuh dan siang tadi (20 Agustus 2012) dipanggil Tuhan. Kenangan demi kenangan akan Bapak berkelebatan di benak. Keramahannya, ceritanya, candaannya, tak akan pernah dilupakan terutama untuk anak-anak angkatan 2006.

“Kalian mau ke mana?” suatu ketika Bapak bertanya saat melihatku dan Selmi bergegas ke pintu. “Mau cari makan, Pak. Bingung mo makan apa.” “Kalian ini ya….orang lain pada bingung gimana caranya beli makan. Lha kalian yang mampu beli, ternyata bingung juga….nyari makan apa?” komentar Bapak 🙂

Suatu kali saat aku mencuci piring di dapur, entah bagaimana obrolan kami bisa sampai membahas bagaimana membuat perkebunan bawang di lahan terbatas sampai ekspor lele ke luar negeri. Oh, iya….aku ingat kenapa kami membahas topik itu. Bapak baru saja mengikuti pelatihan tentang budidaya bawang di lahan terbatas. Dengan penuh semangat Bapak bercerita tentang bagaimana melakukan budidaya itu, meski aku sudah lupa bagaimana caranya 😦 Juga masih dibutuhkannya pengekspor lele untuk memenuhi peningkatan permintaan lele dalam dan luar negeri. Bagaimana lele harus dibuat dalam keadaan pingsan saat diekspor dan tetap hidup dan segar saat sampai di negara tujuan. Dan masih banyak cerita ringan yang meluncur dari mulutnya tiap kali beberapa diantara kami berkumpul di ruang TV.

Bapak yang hobi bangun pagi ini tak akan kami lupakan. Sejak Lia pindah kos, Bapak tak pernah lagi mengunjungi tempat kos kami. Terakhir kali Bapak datang sebelum kepindahan Lia, Bapak mengatakan bahwa tali silaturahmi tak akan bisa terputus. Bapak tetap akan menjadi Bapak kami dan tiap kali ke Padang harus mampir ke rumahnya. Itu terakhir kali bertemu langsung dengan Bapak. Suaranya yang keras tiap kali menelepon di saat subuh tak akan terdengar lagi sama sekali. Senyumnya yang ramah dan bersahabat, ceritanya yang penuh semangat tak akan pernah kami lihat lagi. Namun kenangan akan beliau selalu terpatri dalam benak kami. Selamat jalan Bapak kami tercinta….

 

Jakarta, 22 Agustus 2012

Moses story

Jangan mengharapkan kisahku seperti yang pernah tertulis di Alkitab. Aku menghirup udara segar secara langsung pada 21 Juli 2012 di RS Pondok Indah. Yeay….aku sudah berumur 1 bulan sekarang 🙂 Mama Nata melahirkanku secara ceasar. Menurut perkiraan dokter, sebenarnya aku bisa lahir normal tanggal 27 Juli 2012, tetapi Mama Nata diserang demam tinggi dan harus dirawat di rumah sakit. Mamaku ke rumah sakit untuk menangani demamnya, tetapi karena dikhawatirkan membahayakan hidupku, aku pun “terpaksa” dikeluarkan dari ruang hangat dan nyaman yang selama ini menyelimutiku.

Namun hari ke-5 setelah aku merasakan udara dunia, demam pun menyerangku juga. Dugaan dokter karena ada bakteri yang berhasil menyusup ke dalam tubuhku. Saat aku dalam ruang hangat di perut mama, daya tahan mama yang membentengi tubuh mungilku, tetapi saat aku terlepas dari ruang hangat itu, antibodiku tak cukup kuat untuk menahan gempuran bakteri itu. Ususku yang paling parah terkena infeksi karena tak ada gelembung-gelembung yang muncul seperti di usus bayi normal lainnya. Kata oma Rina, dokter tersayang yang menangani kasusku, aku harus berpuasa untuk mengistirahatkan ususku…hiks…hiks…

So selang pun bertebaran di tubuh mungilku….terhubung di pusar, di kaki, di tangan, di mulut … untuk menyalurkan antibiotik, makanan, dan mengeluarkan cairan lambungku. Rupanya bakteri yang menggempurku jauh lebih kuat daripada dugaan oma Rina. Setelah 7 hari tidak ada kemajuan, ultimatum penggantian darah untukku harus dilakukan. Tujuannya untuk meringankan kinerja hatiku dan agar bakteri-bakteri yang sudah kalah di dalam darah bisa dikeluarkan. Oma Rina menyarankan pada Papa Desmon dan Mama Nata untuk memindahkanku ke RS Hermina Daan Mogot. Katanya agar biaya penggantian darahku tak semahal di RS Pondok Indah. Dan per tanggal 3 Agustus 2012, aku berpindah dari NICU RS Pondok Indah ke NICU RS Hermina Daan Mogot. Ceritaku selanjutnya ada dalam tulisan berikut ini ya.

Sekilas update tentang kondisi Moses.

* Pasca penggantian darah yang pertama (termasuk asupan darah dari papa Desmon, kakaknya Nata, Andry, Yonatan Nadaweo, dan Berman) tgl. 3 Ags, kondisi Moses sangat stabil….tak ada demam, detak jantung ok, dan hasil cek darahnya sama sekali tak ada tanda “bintang”. Ini berlangsung dari tgl. 4-8 Ags.

* Rabu malam (8 Ags), ortunya (Desmon & Nata) dikabari jika Moses demam tinggi dan hasil cek darahnya memiliki beberapa tanda bintang lagi. Analisa dokter menyatakan bahwa infeksi bakterinya belum tuntas diatasi, meski tidak separah infeksi sebelum ganti darah. Diputuskan untuk ganti darah lagi yang kedua.

* Penggantian darah yang kedua dilakukan Jumat subuh, memakan waktu 4 jam untuk memasukkan 2 kantong darah sebagai pengganti dan 1 kantong untuk transfusi biasa (termasuk asupan darah dari Juni & Silfi).

* Jumat seharian sampai Minggu pagi kemarin kondisi Moses stabil, tetapi siangnya meski tak ada demam, denyut jantungnya tiba-tiba turun dan napasnya tersengal-sengal. Langsung dipasang alat bantu pernapasan.

* Bersyukur karena semalam, alat bantu pernapasannya sudah dilepas…yay!!! 🙂 sekarang sedang dilakukan penanganan untuk menormalkan trombosit dan CRP darahnya.

* Berharap sampai Selasa besok, kondisi darahnya sudah stabil dan infeksi bakteri bisa diatasi. Jadi tak perlu transfusi darah lagi. Ortunya cerita jika tubuh mungil Moses banyak merah-merahnya bekas tusukan jarum dan juga bekas plester. Selain itu, jika semuanya ok, Moses diizinkan menjalani treatment pemberian cairan lewat mulut. Selama 19 hari ini, Moses puasa minum. Rasa haus yang membuatnya sering menangis… 😥

* Mulai malam nanti, ortunya akan menginap di rumah ci Netty. Perjalanan PP tiap hari dari Cirendau (Depok) ke Hermina, membuat Nata mengalami beberapa kali pendarahan pasca operasi ceasar. Jadi diputuskan mencari tempat tinggal yang di dekat Hermina. Ci Lia sudah membuka kamar RBC untuk mereka, tetapi karena di lantai 4, Nata yang tidak sanggup. Kebetulan ada teman komsel ci Netty di Semanan yang juga temannya Desmon. Akhirnya Desmon & Nata bersedia untuk sementara tinggal di rumah ci Netty.

Btw, ini foto Moses yang diambil tgl. 2 Ags yang lalu dan juga Desmon & Nata di ruang Perina, Hermina. Masih minta tolong kalian untuk menyisipkan nama Moses, Desmon & Nata dalam doa-doa kalian.

Jakarta, 13 Agustus 2012