Archive | July 2012

dua kereta, dua warna

Saat ada kesempatan untuk ikut pelayanan ke Nusakambangan (nuskam), tentu saja tak kusia-siakan. Beragam rencana dibuat untuk menempuh perjalanan ke Cilacap itu…mencari transportasi yang murah dan waktunya tidak terlalu mepet karena berencana berangkat Jumat sore/malam sepulang kantor (20 Juli 2012).

Semula mo naik travel langsung ke Cilacap. Kelebihannya ga perlu mikirin biaya taksi menuju stasiun kereta karena penumpang travel dijemput di tempat. Selain itu, bisa berangkat lebih malam, sekitar jam 7 malam. Kekurangan jika naik travel, karena jalanan di daerah Bumiayu sedang ada perbaikan, maka hanya dibuka 1 jalur dan ini menyebabkan kemacetan. Harus lewat jalur lain dan diperkirakan bisa tiba di Cilacap jam 6-7 pagi. Itu terlalu mepet karena perlu menyeberang ke nuskam jam 7 pagi.

Akhirnya diputuskan untuk naik kereta api. Dipilihlah kereta api Bogowonto, kereta ekonomi AC. Harga tiketnya lebih mahal daripada tiket bisnis 🙂 Dengan tiket seharga 160 ribu, perjalanan menuju Purwokerto pun ditempuh dari jam 18.40 (berangkat dari stasiun Senen) dan sampai di stasiun Purwokerto jam 00.30.

Tak berbeda dengan kereta ekonomi biasa, saat kereta berjalan, beberapa penumpang dalam gerbong mulai menggelar koran/tikar/kardus sebagai alas tidur. Lorong atau ruang di bawah kursi menjadi incaran untuk bisa meluruskan badan. Meski mereka punya tiket untuk duduk di kursi (memang tidak ada tiket berdiri), mereka lebih memilih untuk tiduran di bawah. Emang pilihan yang tepat karena sandaran kursinya tegak lurus dan tiap dua pasang bangku diposisikan berhadapan…menyiksa bagi penumpang berkaki panjang dan sama sekali ga nyaman untuk tidur.

Hawa dingin mulai menggigit saat menjelang malam. Namun tetap mata tak bisa terpejam nyaman. Selain karena kondisi kursi, juga karena baru pertama kalinya naik kereta ini. Ternyata Bogowonto adalah kereta jurusan Jogja. Semula berpikir jika perhentian terakhirnya adalah stasiun Purwokerto, ternyata sejak bulan Feb 2012, kereta Bogowonto ini dijadikan trayek Jakarta-Jogja. Kata beberapa penumpang, kereta tiba di Purwokerto pas tengah malam, beberapa stasiun dari stasiun Cirebon, dan hanya berhenti beberapa menit. Nah lo….gimana bisa tidur nyenyak jika dapat info seperti itu. Penumpang lain bilang, justru pas nyenyak-nyenyaknya tidur, kereta sampai di Purwokerto. So pesan mereka….jangan sampai ketiduran!

Alhasil, sepanjang malam itu hanya tidur-tidur ayam di kereta….beberapa kali terbangun dan berusaha membaca nama stasiun kereta yang dilewati dan semakin sulit karena kondisinya gelap gulita. Selain itu, yang menambah jijay adalah munculnya crocoach’ babies di dinding bawah, di deket tempat duduk. Tambah ga bisa tidur tenang lagi karena takut hewan-hewan itu merayap ke kursi…oh, Bogowonto, Bogowonto….cukup sekali mencoba naik kereta ekonomi AC ini…tak mau lagi…

Pulang ke Jakarta pas hari Senin pagi (23 Juli 2012), dipilihlah kereta eksekutif yang harganya lebih murah dari kereta Argo. Kali ini kami naik kereta Sawunggalih. Tiketnya hanya seharga 230 ribu, sedangkan kereta Argo harganya 320 ribu. Tempat duduk yang bisa diatur, tempat kaki yang nyaman, tak ada yang gelar tikar, ada 2 film ditayangkan untuk menemani perjalanan, toilet wangi…hanya karena cepat jalannya, goncangan kereta terasa banget. Jauh lebih terasa daripada kereta Bogowonto. Namun tetap lebih nyaman. Tak ada pedagang asongan yang berkliweran menawarkan dagangan. Mereka hanya teriak-teriak di pintu gerbang karena tak diizinkan masuk gerbong.

Kereta eksekutif ini ternyata bergandengan dengan gerbong kereta bisnis. Jadi meski eksekutif, kereta Sawunggalih tak berhenti di stasiun Gambir, tetapi di stasiun Senen. Wedew….mikir lagi ntar tentang transport pulang dari stasiun Senen menuju rumah. Tapi dipikir nanti saja saat setiba di stasiun Senen ya….ada banyak pilihan tersedia 🙂

 

Tertulis tanggal 31 Juli 2012

Advertisements