Archive | May 2012

taksi, oh, taksi

Sepulang kerja sore itu, langsung ngibrit ke Puri mall untuk nyari oleh-oleh buat tiga keponakan kecil yang segera akan bisa kupeluk langsung besok siang. Pesan Ibu sudah terngiang, jangan dibelikan mainan … sudah banyak mainannya. Klo dibeliin baju, mami mereka lebih pinter nyariin model daripada tantenya. Setelah putar-puter, akhirnya nemu hooded-towel, handuk lucu yang membuatku terpikat karena terpajang di sebuah manequin anak. Urusan oleh-oleh kelar sudah dan nyaris malam saat tiba di kos.

Karena kecapekan, setelah bebersih, akhirnya langsung baring-baring di ranjang sambil megang hp dan siapin nomor taksi untuk pesan. Tapi tak dinyana, saking capeknya, mata langsung tertidur pulas dan bablas sampai kebangun jam 3 pagi. Terpikir untuk nunggu sampai jam 4 subuh agar bisa menelepon di jam yang lebih manusiawi.

Saat nada sambung terdengar dan petugas operator menjawab, perasaan sudah lega karena ada petugas yang menjawab. Tapi jawabannya membuatku kaget, “Tak ada taksi sampai jam 8 pagi nanti, Bu.” Guubraakk…gimana cara ke Gambir klo ga ada taksi untuk jam 05.30 nanti. Karena bawa koper yang lumayan berat, jadi agak susah klo naik busway. Naik motor juga susah karena isi kopernya lumayan rapuh–mangkok-mangkok pyrex pesanan mami.

Kucoba telepon ke armada lain, tak ada petugas yang mengangkat. Selepas maghrib, kucoba telepon lagi ke armada yang pertama tadi kuhubungi. Kali ini teleponku diabaikan alias tidak diangkat 😦

Jarum jam terus berjalan dan akhirnya kuputuskan untuk nyari taksi sendiri. Jam 05.00 keluar dari kos sambil bawa motor … masih lumayan gelap dan dingin. Menyusuri jalan Kosambi, tapi tak berpapasan dengan taksi yang kuinginkan. Ingin menelusuri jalan menuju perumahan Semanan, tapi kubatalkan karena jalanan semakin gelap.

Kuputuskan ke ringroad dan melewati 1 pool taksi di Rawabuaya, bertepatan dengan seseorang yang mengantar istrinya untuk mencari taksi ke bandara. Saat tanya ke satpam, katanya bisa langsung dapat taksi klo datang ke pool. Jadi si ibu tadi, langsung masuk ke taksi yang membawanya ke bandara, dan ada satu taksi lagi yang disiapkan untukku. Karena aku bawa motor, jadi terpaksa memandu taksi itu kembali ke kos untuk ambil koper dan barang-barangku. Baru tahu jika di pagi hari, jalanan depan kosku itu dipakai untuk lalu lalang truk dan mobil carteran. Kasian taksinya karena harus pindah ke mana-mana untuk memberi jalan.

Akhirnya jam 05.45, taksi itu membawaku ke Gambir dan tiba di sana jam 06.30 … hiks, hiks, kepagian banget. Itu pun si taksi sudah muterin Monas karena salah pintu masuk, trus salah masuk juga karena tidak menuju ke tempat parkir Gambir, tapi yang langsung keluar. Alhasil, banyak mobil di belakangnya yang maen klakson saat si supir nurunin barang-barangku. Taksi, oh, taksi … entah supirnya memang bener-bener ga tau atau gimana, yang pasti aku nyesel karena ga pernah ingat jalan mana menuju Gambir dan di mana pintu nurunin penumpangnya.

Saat masuk ke pintu Selatan, aku tak menemukan loket yang kucari, Jadi terpaksa jalan kaki lagi ke pintu Utara dan menemukan loketnya. Katanya bisa ditukar di loket 4 & 5, tapi yang buka loket 6-8. Semula sempat bingung, tapi pas nanya di depan loket, ternyata bisa langsung dilayani. Langsung tuker tiket online yang menurut aturan harus ditukar maksimal 1 jam sebelum keberangkatan.

Setelah dapat tiket, mampir dulu ke Holland Bakery untuk nyari roti buat makan siang dan sekaligus membelikan sarapan untuk seorang bapak tua yang biasa nangkring di stasiun Gambir karena tak ada tempat tinggal. Bapak yang tunawisma ini, biasa duduk di bangku pojok yang ada di seberang Holland Bakery. Sekitar jam 07.15, ia beranjak dari kursi sambil membawa 2 tas besarnya. Aku tak tahu mau ke mana, mungkin cari sesuap nasi. Saat bungkusan makanan kuberikan, ia lihat isinya dan duduk lagi sambil ngucapin terima kasih. Yang bikin trenyuh saat ia bilang, “Minum dulu, sudah haus.” Bahkan untuk sebotol aqua kecil pun, ia tak ada … nyesel karena tidak beli yang besar sekalian. Ntar klo ada kesempatan ke Gambir lagi … jadi tau apa yang bisa diberikan untuk si bapak ini.

Jakarta, 16 Mei 2012

Advertisements

ga asikk kata mereka :)

Nyaris satu jam setelah ibadah staf berlalu … aku lirik ke meja, tapi dompet tedy yang biasa nangkring di sebelah laptop tak terlihat oleh mata. Mata menjelajah ke seluruh sudut meja kerjaku, dan memang dompet itu tak ada. Cling … ya baru ingat, tadi setelah ibadah, aku mampir ke pantry untuk ambil minum. Karena gelasku tak kutemukan di tempat aku menaruhnya sebelum ibadah, terpaksa meletakkan dompet di meja terdekat dan mencari-cari gelasku. Ketemu juga gelas itu di lemari gantung. Nyaris selesai ambil minum, ada Felix yang nongol untuk ngasi sampel gelas mungil yang rencananya akan dijadikan sovenir Agape. Karena terlalu excited dengan gelas itu dan pengin segera nunjukkin ke ci Lily, aku pun bergegas melangkah ke ruang staf dan mencari ci Lily di ruangannya … dompetku terlupakan …

Saat ingat klo dompet tertinggal di dapur, hanya menggumam sekilas ke Dwi, “Dompetku tertinggal di dapur.” Lalu aku ngeloyor pergi menuju pantry sekalian membawa teh celup. “Ah, pasti tidak hilang dompet itu,” pikirku ragu. Isinya hanya hp “jadul” Nokia, yang sudah tersisih ke pinggiran karena hampir sebagian besar staf  sudah pake smartphone & BB, tapi tetap saja badanku terasa numb karena takut jika hp itu benar-benar hilang.
Sampai di pantry dan menatap meja tempat aku menaruh dompet tadi … bersih, kosong!!! Tak ada dompetku … benar-benar hilang ni. Tapi aktivitas bikin teh tetap jalan terus dan tetap ga bisa cerita saat Amin nyusul ke pantry. Sikapku seolah mengatakan, “Nothing wrong,” tapi di benak sudah terpikir, mau kirim e-mail ke semua staf, siapa tau mereka sempat lihat dompetku dan menyimpannya. Lalu mau tanya staf lantai 1 juga karena kebetulan mereka tadi juga ada di pantry.
“Gimana?” tanya Dwi. “Ga ada!” kataku sambil meraba-raba ke dalam ranselku, siapa tau tadi dompet sudah kebawa dan kulempar ke situ. Lalu ke ruangan ci Lily dan tanya apa aku meninggalkan sesuatu di situ, dan emang tak ada dompet itu di ruangannya. Tubuh benar-benar serasa melayang. Rasa panik ga bisa mencuat ke luar, tapi membuat badan mati rasa dan tangan dingin semua. Dwi coba bantu misscall, tapi ga terdengar suara apa pun. Ga ingat juga klo pas ibadah tadi hp ku-silent. Lenyap sudah harapan karena memang benar-benar hilang. Pantry adalah tempat terbuka, siapa pun bisa masuk dan memang ada kemungkinan besar hp-ku lenyap tanpa tahu siapa yang mengambilnya. At least dengan kirim e-mail untuk tanya ke teman bisa membuatku sedikit lega. Tapi tiba-tiba Dwi berkata, “Tanya Tina.”
Ooo…mulai tercium bau konspirasi konyol ni. Amin juga sudah berdiri di depan pintu ruanganku untuk bertanya ada masalah apa. Dan setelah cerita tentang hilangnya dompetku di dapur, dia tanya isinya apa saja? Tapi karena senyuman di wajahnya saat bertanya, aku makin yakin konspirasi ini. Tapi waktu tanya Tina, wajahnya terlihat sungguh-sungguh serius saat berkata, “Aku bener-bener ga tau, Endah. Makanya jangan ninggal apa pun di pantry.” Sempat ragu dengan info yang kuterima dari Dwi. Saat kembali ke kursiku, Dwi tetap meyakinkan berkata, “Tanya Tina!”
Baliklah aku ke ruangan Tina, dan sudah ada Andry dan Daniel yang nungguin di dekat pintu.
“Ati-ati, jangan bikin Endah panik. Pintu pagar saja bisa jebol karena sentuhan tangannya.” kata Daniel.
“Aku pengin liat gimana klo Endah panik. Jadi gitu ekspresinya klo dia panik,” timpal Andry.
Tetap dompet belum kembali ke tangan, sempat ragu, apa beneran mereka yang “simpan”? Saat kembali ke kursi, tubuhku masih numb … mungkin tak tega melihat ekspresiku yang terlihat (meski tak terpancar keluar), Tina masuk ke ruanganku dengan membawa dompet tedy itu. “Endah, ga asyik d!” Lalu terungkaplah cerita tentang konspirasi mereka. Tadi pas masih di pantry dan melihat aku yang bergegas keluar dan melihat dompetku yang tertinggal, “mereka” sepakat untuk melihat bagaimana jika panik 🙂 … Jadi saat aku ngeloyor ke dapur untuk mencari dompetku, rupanya di ruangan sudah tersebar info, “Endah, mulai panik!” Dan Amin “bertugas” membuntutiku ke pantry untuk melihat bagaimana reaksiku. Tapi tak ada keluhan/cerita/pertanyaan yang kukatakan ke Amin terkait dengan hilangnya dompetku. Aku malah sibuk bikin teh 🙂 … tapi sebenarnya lagi mikir juga seperti yang kuceritakan tadi.
Kata “Endah, ga asyik d,” membuatku teringat pada KrisNop-Nop, Ely, Dono, si Y … yang gemar “mengusikku”. Hello guys … I miss you all 🙂 Nyembunyiin tas, kunci motor, naruh boneka segedhe gaban di ranselku, naruh sesuatu di kursiku … tapi buntut-buntutnya mereka yang kecewa karena aku tak bereaksi ato berekspresi seperti yang mereka harapkan :)) Tak ada lonjakan kaget, tak ada teriakan panik … tapi hanya tampang pucet saja sambil nanya, “Kunciku di mana ya?” ato malah aku diam seribu bahasa sambil sibuk nyari barang yang mereka sembunyikan.
Ah, de javu … kisah itu terulang lagi di kantor baru 🙂 … heran juga kenapa mereka ingin melihatku “panik” 🙂
Jakarta,
9 Mei 2012