Archive | March 2012

Penjahit–Penjahat

Kebetulan jalanan lengang, aku mengambil jalan yang melewati tempat penjahit yang menjadi langganan teman kos. Sekitar sebulan lalu, aku nitip teman untuk memasukkan jahitan ke tempat itu. Dengan keyakinan klo celana baruku sudah selesai, aku pun mampir ke tempat penjahit itu.

“Atas nama siapa, mbak?”

“Endah”

Tumpukan bungkusan dibongkar untuk mencari label bertuliskan Endah. Tak ditemukan punyaku. Tak mungkin diambil temanku karena dia belum ada waktu. Aku bantu mencari-cari dan menemukannya dan mendapati jika jahitanku belum dikerjakan sama sekali. Kata si penjahit bisa selesai dalam waktu 2 minggu, tapi ini sudah 1 bulan dan bahan itu belum menjadi celana baru 😦

“Sudah sebulan, Mas?” kataku sambil memegang bahanku. “Katanya 2 minggu bisa selesai…”

“Ini sudah berapa minggu?” tanya si penjahit tanpa rasa bersalah (menurutku).

Dengan polosnya aku menjawab, “Empat.” Aku yakin ekspresi marahku pasti sudah terpancar di wajahku dan penjahit itu makin cuek saja. Marahku ga bisa keluar karena dia tak bisa menepati janji.

“Akan diselesaikan secepatnya,” katanya.

“Secepatnya itu berapa hari?” tanyaku sambil menahan marah.

“Ya…beberapa hari.” sambil dia melempar bahanku ke keranjang.

Setelah say thanks, aku bergegas meninggalkan tempat itu. Ini kali kedua aku bermasalah dengan Bang John ini dan benar-benar membuatku jengkel. Saat tiba di rumah, pintunya dibukakan Selmi. Kebetulan dia yang memasukkan bahan kainku tadi ke tempat Bang John. Amarahku langsung tersembur, tanpa kupedulikan wajah capeknya Selmi karena belum sempat istirahat sepulang dari Jogja.

“How I hate Bang John!” teriakku. “Ini alasan kenapa aku tak pernah suka njahitin celana ke tempatnya. Aku selalu bermasalah tiap kali ke sana. Sudah sebulan, bahanku belum jadi celana. Katanya hanya 2 minggu…!” kataku berapi-api.

Selmi pun kaget melihat amarahku. Dia langsung bilang, “Baru kali ini aku lihat mbak En marah.”

Kaget aku mendengarnya dan langsung terucap, “Penjahit itu membuatku jadi penjahat!” kataku sendu sambil memasukkan motor ke dalam rumah. Saat melihat keberadaan Selmi lagi, berangsur reda amarahku. Rasanya salah karena aku menyemburkan amarahku pada Selmi, amarah yang seharusnya terucapkan untuk Bang John… eh, ga boleh juga ya 🙂

Peristiwa ini menjadi semacam dejavu saat masih tinggal serumah dengan keluargaku. Biasanya yang menjadi sasaran amarahku adalah adikku yang paling bontot, adik yang paling dekat denganku. Mengapa sulit bagiku untuk marah pada orang asing dan lebih mudah menyemburkannya ke orang yang dekat dan kukasihi? Apa karena aku ingin jaga image di mata orang asing? Padahal secara sadar aku tahu klo orang yang menjadi sasaran amarahku pasti merasa sakit hati, terutama jika bukan karena mereka yang menjadi penyebab kemarahanku.

Bukan hal yang gampang untuk mengendalikan amarah saat ada pemicu yang tepat menyulutnya. Yang menyedihkan, amarah itu tertumpah justru pada orang-orang terdekatku.

Selama ini kupikir aku sudah lebih bisa mengendalikan amarah ini. Ternyata peristiwa di tempat penjahit itu membuat kendali diriku hancur berkeping-keping dan membuatku berlutut dan meminta ampunan lagi.

Jakarta, 26 Maret 2012

empek-empek

Saat di Solo, empek-empek adalah satu-satunya makanan yang ingin ku makan tapi ga kesampaian 🙂 Masalahnya sih sepele … aku ga berani masuk sendirian ke warung makan yang menjual empek-empek. Tapi jika ngajak teman, aku yang malu. Masa sudah se-gedhe gaban begini belum pernah makan empek-empek sih …

Sampai akhirnya aku bisa kerja di Jakarta saat ini. Ternyata apa yang kurindukan di Solo, disediakan melimpah saat bekerja di kantor baru ini. Mulai dari empek-empek eceran yang dijual dengan gerobak dorong di depan kos sampai empek-empek asli buatan Palembang pun pernah kucicipi.

Seminggu yang lalu, temanku yang dari Palembang mengajakku dinner. Dia mengajak makan di warung empek-empek yang deket dengan tempat kos. Wah, ternyata empek-empek model yang ditawarkan ke aku. Jenis ini mirip dengan tekwan sih cuma isinya tahu putih dan lumayan besar. Kuahnya pun enak dan yang penting ada jamur hitamnya. Setelah ditambah cuka empek-empek dan sambal ijo, nikmat sekali saat menyantap makanan ini selagi masih panas.

Nah, khusus hari ini, temanku yang asli Bangka, membawakan empek-empek Bangka. Bentuk empek-empeknya lenjer biasa. Yang membedakan hanya sambal merahnya yang dikasi bumbu taoco. Ternyata enak juga 🙂

Di antara semua empek-empek yang kunikmati, yang paling enak adalah empek-empek buatan maminya temenku yang dari Palembang. Terasa banget ikan tenggirinya dan ukurannya pun besar-besar plus cukanya yang nikmat.

Ternyata memang enak makanan empek-empek Palembang ini apalagi jika gratis 🙂
Thanks guys karena membuatku menyukai jenis makanan ini

Tiket Busway 6000rp … wedew

Jangan salah persepsi dulu…judul itu bukan berarti tiket busway sudah naik gara-gara kenaikan harga bbm 🙂

Setelah jalan-jalan seharian di hari Minggu, om Joko tak mengizinkan kami (Wahyu dan aku) untuk langsung pulang ke Jakarta pas Minggu malam. Alhasil, kami pun meluncur dari Bekasi jam 05.10. Ini kali kedua bagiku berangkat ke kantor pas masih subuh, tapi lautan sepeda motor sudah memadati sepanjang jalan dari kompleks ke jalan utama.

Perjalanan subuh ini sebenarnya lebih lancar dari perjalananku tiga minggu sebelumnya. Jalan di depan kompleks Harapan Kita dan sekitar Cakung bisa dilalui dengan lancar, tapi saat mendekati terminal Pulogadung, kendaraan mulai tersendat-sendat. Jangankan mobil, motor pun berjalan dengan bantuan kedua kaki karena majunya hanya per 50 cm 😦

Semula berharap bisa sampai di halte busway Pulomas jam 06.00, ternyata baru jam 06.30 aku bisa masuk ke halte tersebut. Namun antriannya sudah lumayan padat sehingga kuputuskan untuk mundur ke halte Bermis. Antrian juga sama padatnya. Tiap kali busway melintas, baik jurusan Harmoni atau express Kalideres, sudah full berat dan tak mungkin ditambah penumpang baru. Hanya 1-2 penumpang yang bisa masuk. So, langsung ambil keputusan untuk mundur lagi ke Pulogadung.

Jam 06.45 aku tiba di halte Pulogadung. Karena baru pertama kalinya dan ga mau bertanya, aku nyasar dengan sukses ke bagian halte yang khusus ke jurusan Dukuh Atas. Jika mau yang ekspress Kalideres, aku harus pindah ke bagian halte yang di sisi kiri dan harus bayar tiket lagi 😦 … daripada harus jalan dari Dukuh Atas, lebih baik langsung ke bagian Kalideres. Total 6000rp kukeluarkan pagi ini untuk bayar tiket busway. Wedew…malu bertanya, uang melayang.

“Penderitaan” belum berlalu. Selain kemacetan jalan di Pulogadung yang membuat perjalanan busway tersendat, ternyata ada lautan manusia di halte yang menuju Harmoni dan Kalideres. Busway yang tersedia pun jarang. Begitu ada busway nongol, entah Harmoni dan Kalideres, antrian yang sudah tak sabar, karena kelamaan berdiri menunggu, segera merangsek ke depan. Dorong mendorong terjadi karena ada sebagian yang ga mau masuk bus karena memang sudah terlalu padat, tapi antrian yang di belakang ga peduli … pokoknya tetap dorong maju. Teriakan-teriakan pun bermunculan, antara petugas yang mendesak penumpang untuk masuk ke bus meski sudah berjubel orang di dalamnya, dan teriakan mereka yang antri di belakang memarahin antrian di barisan depan karena ga mau maju.

Di pintu yang langsung ke Kalideres, antrian serupa pun terjadi. Busway-nya luama sekali nongol, sekali nongol, antrian berdesakan dan mendorong ke depan. Kali ini bus yang muncul hanya sampai di Indosiar dan bisa transit lagi menuju Kalideres. Namun karena sudah “bayar mahal” untuk tiket busway pagi ini, so pasti aku ga mau naik. Karena termasuk dalam deretan tengah, saat busway itu muncul, antrian di belakang mendorong ke depan. Sulit bagiku untuk menahan tubuh agar tak ikut terdorong ke depan. Sepertinya orang di antrian belakang tak peduli jika ada orang yang terjatuh gara-gara salah melangkah atau jika busway sudah berjejal penumpangnya.

Baru kali ini aku merasakan pengalaman ini. Kesan pertama: sangat ngeri karena melihat orang-orang yang sudah tak peduli lagi. Alasannya memang bisa diterima. Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 dan busway-nya jarang. Untung aku bisa meraih tiang pintu di sisi kiri dan lumayan bisa menjadi tambatan. Ada yang marah-marah karena ga deretan depan ga mau masuk ke bus. Gimana mau masuk, jika hanya sampai Indosiar.

Peristiwa dorong-dorongan tersebut mengusik pikiranku saat menuangkannya dalam tulisan ini. Sisi positifnya, dorongan dari orang lain itu sungguh powerful. Jika mengandalkan pikiran dan kekuatan sendiri, mungkin aku ga akan pernah maju. Jadi ingat teman-teman sekomunitas di kantor, kelompok Navigators, kelompok nge-trip, kelompok kecil di gereja … beragam teman dan komunitas, beragam pula cara mereka memberikan dorongan ke tiap anggotanya. Sungguh bersyukur dengan keberadaan mereka. Seandainya hanya hidup sendiri, bara apiku semakin meredup dan akhirnya mati. Keberadaan teman-teman dalam komunitas tersebut bagaikan bara-bara api yang saling memanaskan dan bisa memancarkan cahaya yang lebih terang … aduh indahnya 🙂

Namun di sisi lain, dorongan itu bisa menghempaskan. Karena begitu kuat dorongan dari antrian di belakang, aku yang berusaha bertahan pun tak kuasa mempertahankan kaki, otomatis ikut terdorong. Sampai akhirnya tanganku menggapai pintu yang menjadi pegangan agar aku tak terdorong ke depan. Dalam hidupku, aku pun butuh pegangan … bukan pegangan pintu atau pegangan wajan 🙂 Arus dunia ini sedemikian kuat menerjang tanpa henti. Jika aku tak punya pegangan, pastilah sudah ikut terhanyut arus dunia yang menawan tetapi mematikan ini. Bukan berarti belum pernah terhanyut. Justru karena sudah pernah merasakan terhanyut dan tak berdaya saat daya tarik dunia dilancarkan bertubi-tubi. Akhirnya kutemukan Dia yang menjadi penopang sejati, yang memegang terus tanganku, menjadi tambatan, saat gelombang dunia mengombang-ambingkan kehidupan.

Bekasi-Jakarta,

26 Maret 2012

Tutur Sepatah

Setiap tulisan bagaikan cahaya yang menembus relung-relung hati si penulis…

…pelajaran manis dan pahit yang harus ditelan

…kebenaran yang dibukakan

…pencerahan yang disingkapkan

…beragam emosi yang dirasakan

karena Sang Penjunan tak pernah lelah membentuknya hari demi hari