Archive | May 2011

tegak

meranggas

meranggas? bukan!!
dihajar lahar panas
dalam hitungan jari
ubah wajah Merapi

batang pepohonan
terserak….
terhempas…
tak berdaya…
melawan hantaman kuasa

tapi lihat…
beberapa tetap tegak
menantang, teguh berdiri
meski kerontang kering

adakah akar tersisa?
menopang asa
lanjutkan usia?

kisah kasih bapa

Mata bisa berkaca-kaca saat seorang teman bercerita. Entah kenapa pengeluaran uangnya kacau balau dalam suatu bulan. Uang di dompet tinggal selembar 50rb dan masih di awal bulan. Karena tinggal di perantauan, tak adanya uang di tangan semakin menambah beban. Katanya seharusnya masih ada persediaan dana karena dua tempat di mana ia kerja sampingan belum membayarnya untuk gaji bulan kemarin. Malu katanya untuk mengingatkan bosnya tentang bayaran. Tetapi hari terus berjalan dan tak ada kepastian kapan gajinya dikucurkan.

Akhirnya ia memutuskan untuk telepon ke rumah. Pulsa hp-nya pun tinggal 3rb dan hanya cukup bicara sepatah kalimat. Dering pertama langsung diangkat papanya. “Ada apa, nak?” … meski malu, ia mengaku, “kehabisan uang, Pa. Bisa dikirim 100rb?” “Cukup segitu?”, tanya papanya. “Cukup untuk bertahan sampai sabtu, nunggu gajian dari restoran. Klo sabtu ini belum juga dibayarkan, nanti aku telpon Papa lagi…” ….tut….tut…tut…muncul tulisan, “pulsa Anda tinggal 1500, tak cukup…bla…bla…” Ia mau kirim sms, tetapi papanya masih gaptek, hanya bisa telpon klo pake hp 🙂

Lega katanya setelah bisa menelepon papa. Ia pun berangkat ke tempat kerja. Ia bercerita klo sekitar jam 10an, hp-nya berdering…telpon dari papanya. “Sudah Papa transfer uangnya.” “Terima kasih, Pa…tadi pulsaku abis pas telpon terputus.” “OK, take care.” Ia mulai memutar akal…uang 100rb sudah terlihat alokasinya…beli pulsa, uang transport, dan uang makan 3 hari…duh, semoga cukup sampai akhir pekan klo bener-bener belum ada transferan gaji. Kebayang ga ada uang lagi pas hari Minggunya.

Lalu ia cek saldo tabungannya via hp-nya, ternyata 200rb yang ditransfer papanya…lebih dari cukup. “Oh, my God…oh, my God…” serunya dan pecah tangisnya….seolah tak percaya. Papanya jauh lebih memahami kebutuhannya, bahkan sebelum ia memintanya.

Mataku masih berkaca-kaca saat ia selesai cerita. Apa yang dikisahkannya mengusik pikiranku lagi tentang kisah kasih Bapa yang sedikit berbeda. Jika bapa dunia saja bisa mengetahui kebutuhanku dan mencukupinya, apalagi Bapa atas segala bapa. Terkadang ada rasa takut atau malu atau keduanya untuk datang kepada Bapa dan bercerita. Padahal sesungguhnya, Dia telah mengetahui segalanya…kebutuhanku, pergumulanku, ketakutanku, kekhawatiranku, kelelahanku, tangisanku, seruanku, deritaku, sakitku…segala kebutuhan jasmani maupun rohaniku, Dia sungguh-sungguh mengetahuinya….aku hanya tinggal ngomong saja. Kasih-Nya tak pernah luntur meski aku sering mengabaikan Dia, sering merasa mampu mengatasi masalahku sendiri, sering lupa bahwa Dia ada dan menantiku datang kepada-Nya. Kisah kasih-Nya sungguh luar biasa…bagiku dan bagi Anda juga tentunya. Apakah Anda sudah mengenal-Nya?

NB.: sedikit lanjutan cerita…
Ia kirim sms hanya untuk mengatakan padaku, “Tak lama setelah Papa transfer, bos restoran pun transfer gajiku…saldo tabunganku lebih dari cukup sekarang. Bisa hidup sampai akhir bulan” “Aku jadi menyesal terlalu cepet telpon ke rumah…seandainya tak buru-buru, tak perlu telepon ke rumah dan bikin Papa cemas karena kondisi keuanganku.” …Tak sabar menanti waktu Tuhan katanya.

Namun, ia tak tahu…dari ceritanya, aku mendapat memorial yang berharga…tentang kisah kasih Bapa dan juga ditambah: kesabaran untuk menanti waktu-Nya 🙂

“Karena setiap orang yang meminta, menerima . . . Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya” (Matius 7:8-11).

goresan cerita, Jakarta, 12 Mei 2011

cerita lama

satu kata
menguak luka

Kaliurang tempatnya
sungguh menikmati
saat mendaki
menyaksikan keindahan Merapi
bertukar cerita
berbagi pengalaman
sungguh menyenangkan

sukacita terhempas
saat kecaman menerpa
berawal dari rute yang berbeda
akhirnya menuai bencana

Cemarasewu tempatnya
Tak lelah mata terpana
menyaksikan hamparan hijau
sejauh mata memandang
mencari jejalanan
yang jarang diitemukan
2-3 jam perjalanan
turun, mendaki, lewat pematang
akhirnya sampai
di wilayah percandian
sungguh perjalanan
yang tak melelahkan
dibayar oleh pemandangan
yang tak pernah lekang

Keceriaan di hati
ingin membuat canda
kami sengaja sembunyi
untuk menciptakan kejutan
namun tak sesuai rencana
canda menjadi bencana
kejutan yang kami siapkan
menuai amukan
seribu bahasa kami terdiam
mata pun berkaca-kaca
hati terluka
perjalanan pulang yang menyiksa

sungguh hanya 1 kata
K-a-l-i-u-r-a-n-g
cerita lama pun
menari-nari lagi

goresan kata, Jakarta, May 11th, 2011

Telah kulihat, bukti kasih-Mu

Telah kulihat, bukti kasih-Mu,
Kau rela mati tebus dosaku
Dengan darah-Mu, Kau slamatkanku,
kini kujadi ciptaan baru

Terlalu besar, kasih-Mu Bapa.
pengorbanan yang Kau berikan bagiku.
Terlalu mahal, darah-Mu Yesus.
tercurah untuk menebus hidupku.

Lagu ini yang terus terngiang di benakku saat mengingat lagi tentang peristiwa Jumat Agung. Seorang teman memicu kembali kenangan ini, mengusik ketidaksukaanku terhadap film-film horor maupun bloody termasuk film The Passion of Christ. Sejak film itu ditayangkan, belum pernah sekalipun aku melihatnya secara utuh. Selalu putus (maksudnya aku yang “melarikan diri”) saat adegan penyesahan Kristus ditayangkan.

Yang bikin jengah, cuplikan adegan itu sampai penyaliban-Nya sering ditayangkan di gereja-gereja terutama saat ibadah Jumat Agung ataupun saat merayakan Paskah. Entah di awal ibadah atau pada saat roti dan anggur perjamuan diedarkan. Jika di awal ibadah, cukup mudah untuk menghindar dengan cara datang sedikit terlambat, dan tiba pas ibadah dimulai.

Paling senewen ketika penayangannya pada saat roti dan anggur perjamuan diedarkan. Tangan tak bisa dipakai untuk menutup telinga karena masing-masing memegang sloki dan roti. Suara penyiksaan itu membuatku tersiksa, dan tahun ini lebih berkurang karena adegan itu “hanya” menjadi video-clip untuk lagi “Down The Via Dolorosa”. Aku bisa lebih konsen ke lagunya dan tak terlalu memperhatikan video-clip-nya.

Apa yang kualami mungkin terdengar aneh dan menggelikan bagi sebagian orang. Namun, hatiku selalu tak tahan ketika melihat tayangan penyiksaan dalam bentuk apa pun. Jika di film lain, tak terlalu kupedulikan, tetapi dalam film The Passion of Christ…seolah-olah dosaku sendiri yang dikuliti hidup-hidup. Aku ga tahan karena aku melihat lagi betapa mengerikan akibat dosa itu, betapa mahal harga yang harus dibayarkan untuk dosa yang kuperbuat dan Yesus mau membayarnya…karena memang hanya Dia yang mampu melakukannya…dan yang terutama karena kasih-Nya yang teramat sangat besar sekali bagiku. Setiap sesahan diterima-Nya karena Dia tahu pasti, aku sendiri pasti tak tahan menerimanya. Dia memberikan diri-Nya untuk menggantikanku…memikul setiap akibat dosaku sampai lunas dibayar.

Tetapi mengapa harus melalui penyiksaan sedemikian rupa? Yesus yang lembut,
tak bercacat cela, disesah dengan kuatnya oleh para algojo Roma?
…sungguh mengerikan dosa itu…siksaan yang amat teramat sangat kejam dialami-Nya
…katanya membuat gila setiap mereka yang menyaksikannya langsung saat itu
…bersimbah darah, punggung terkoyak hebat oleh cambukan, kaki dan tangan terluka oleh paku yang menghujam, sakit yang tiada terkira bahkan saat menghirup dan menghembuskan udara…

Itu semua dilakukannya, hanya demi menyelamatkanku…itulah bukti kasih-Mu kepadaku…apakah aku akan menyiksa-Nya lagi dengan kejatuhanku…apakah aku akan menyalibkan-Nya lagi dengan dosa-dosaku?

Ah, Tuhan …. sungguh kusesali setiap dosaku…dan sungguh kubersyukur untuk kasih-Mu.

corat-coret, Jakarta, 4 Mei 2011