Archive | February 2008

Namanya Bina Iman AGAPE

Bila di Solo, ada mbak Muji yang merintis persekutuan anak Betania, di Jakarta ada ci Lily yang saat ini bersama suaminya dan 6 pasangan suami-istri berkomitmen untuk mengadakan “Bina Kasih AGAPE”. Serupa tetapi tidak sama … Serupa karena AGAPE berkomitmen untuk menolong anak agar bertumbuh dalam karakter yang sesuai dengan firman Tuhan.

Berawal dari cerita ci Lily yang mengikutsertakan anaknya, Lala, dalam kelas bina kasih Sahabat Kristus di Kelapa Gading. Sejak usia dini, Lala mulai dikenalkan dengan pujian dan firman Tuhan yang sederhana di kelas Sahabat Kristus yang diadakan setiap hari Sabtu. Tidak hanya Lala yang “sekolah”, tetapi ci Lily dan suaminya pun mengikuti KTB bagi para ortu yang anaknya mengikuti kelas Sahabat Kristus. Kurikulum anak dan ortu pun disesuaikan. Jika anak belajar tentang ketaatan, ortu pun belajar hal yang sama supaya ketika di rumah bisa saling penerapan. Ada PR juga para ortu yang ikut KTB. Mereka wajib menulis jurnal mingguan tentang perkembangan dan pertumbuhan rohani anaknya. Saat membaca jurnal mingguan ci Lily tentang Lala, rasanya menyenangkan sekali karena seakan aku sendiri bisa mengikuti perkembangan si kecil Lala … waduh, jadi ingat ama Dinar, my little sister.

Namun, karena letak sekolah yang amat jauh dari rumahnya di Cengkareng, terpaksa ci Lily tidak lagi mengikutkan Lala ke kelas Sahabat Kristus. Namun, hal itu tidak berarti nganggur begitu saja. Kerinduan untuk menanamkan firman Tuhan kepada anak-anak itu tetap menyala di hati ci Lily dan Tuhan mempertemukannya dengan 6 pasang suami istri yang memiliki beban yang sama. Dari merekalah muncul ide untuk membuka cabang kelas Sahabat Kristus di Cengkareng. Namun, pihak Sahabat Kristus kekurangan tenaga untuk memantau perintisan cabang baru itu. Oleh karena itu, mereka memberikan kebebasan supaya mereka bergerak secara mandiri.

Terus terang hal itu memunculkan banyak ketakutan dalam hati dan pikiran ci Lily yang ditunjuk menjadi ketua perintisan. Bagaimana mencari tempat, siapa nanti yang akan menjadi pengajar, bagaimana dengan dananya, apakah akan ada yang berminat untuk mengikuti kelas ini, dsb.? Namun setiap ketakutan itu dijawab satu per satu ….

Dari ketujuh pasangan itu, mereka sepakat mendirikan kelas bina iman AGAPE. Rencana launching akan diadakan awal Maret dengan mengadakan Seminar Keluarga Kristen yang dibawakan oleh Ibu Charlotte Priatna. Kelas ini secara resmi akan dimulai pada bulan Agustus, setiap hari Sabtu di Gepembri Pos PI Daan Mogot. Terdiri dari 3 kelas: kelas BATITA (1,5 – 3th), kelas BALITA (4-6th), dan kelas TANGGUNG (7-10th) … hampir mirip dengan kelas-kelas di PA Betania zaman dulu 🙂

Karena tidak menginduk kepada gereja tertentu, kebutuhan dana pun ditanggung oleh ke-7 pasangan tadi. Mereka sepakat untuk mengadakan iuran rutin setiap kali pertemuan. Dari dana yang terkumpul, mereka bisa membiayai kebutuhan untuk pelaksanaan seminar dan launching. Mungkin ada orang yang berpikir bahwa mereka adalah pasangan yang kurang kerjaan. Namun, tidak demikian. Mereka adalah pasangan-pasangan yang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Di tengah-tengah kesibukan mereka dalam ngurus kerjaan dan rumah tangga, mereka masih bisa meluangkan waktu untuk rapat guna membahas kelangsungan AGAPE. Aku salut untuk mereka, meskipun capek tetapi masih bisa menyediakan waktu.

AGAPE sendiri bukan playgroup, atau saingan SM, atau tempat penitipan anak, dan juga bukan sekolah formal. AGAPE lebih merupakan kelas bina iman untuk anak dan kelompok tumbuh bersama (KTB) untuk pasangan suami-istri. Fokus dari pelayanan bina iman AGAPE ini memang lebih komplit dibandingkan dengan PA Betania. AGAPE menjangkau tidak hanya anak-anak, tetapi juga orangtua sehingga bervisi untuk menjadikan keluarga Kristen yang tangguh dalam memengaruhi zamannya dimana ortu sebagai pemeran utama dalam pendidikan iman anak.

Entah kenapa, aku sendiri langsung menaruh minat dalam pelayanan ini ketika mendengar sharing ci Lily. Aku pengin ikutan bergabung dalam pelayanan ini meski aku sendiri belum menjadi ortu 🙂 Tawaran untuk bergabung dalam pelayanan bina iman AGAPE sudah ditawarkan ci Lily. Namun, ada ketakutan-ketakutan yang muncul … salah satunya adalah aku tidak ada apa-apanya bila dibanding dengan jam terbang mereka dalam pelayanan anak. Namun, kesempatan bagus tidak mungkin dilewatkan begitu saja. Aku memutuskan untuk bergabung dalam pelayanan baru ini. Aku ingin belajar lebih banyak lagi tentang pelayanan anak dan kali ini ada pelayanan baru yang bisa kugeluti. Thanks ci Lily atas tawarannya …

Di sisi lain, aku juga bersyukur karena bisa bertemu dan bersahabat dengan orang-orang seperti mbak Muji dan ci Lily. Thanks my dear Father for their friendship …

Jakarta, 20 Februari 2008

Berawal dari PA Betania . . .

Hari ini ketika mengedit salah satu bagian dalam buku The Spotlight, aku bertemu dengan kata Betania. Dan dengan cepat, kata ini menarik kembali ingatanku di masa-masa ketika aku masih aktif melayani dalam persekutuan anak (PA) Betania di rumah mbak Muji, kakakku.

Aku sendiri sudah lupa kapan persisnya aku mulai bergabung dalam pelayanan ini. Yang kuingat, aku mula-mula hanya membantu untuk memimpin pujian dalam PA yang diadakan tiap Sabtu jam 16.30, sedangkan cerita dibawakan oleh mbak Muji. Lama-lama, aku dilatih juga untuk bisa membawakan cerita di depan anak-anak itu … semula emang bener-bener grogi, tetapi lama-lama aku bisa menikmatinya.

Saat itu, anak-anak masih digabung dalam 1 kelas meskipun range usia mereka terpaut jauh, mulai dari balita sampai kelas 4 SD. Tiap kali cerita, mereka digabung, tetapi saat melakukan aktivitas, anak-anak itu dibagi dalam 2 kelompok. Seiring waktu, ada tambahan teman yang bersedia membantu untuk mengajar PA. Dengan begitu, anak-anak itu mulai dibagi dalam 3 kelompok kelas — kelas kecil (balita-TK), kelas tengah (SD kls. 1-3), dan kelas besar (SD kls. 4-6). Mengucap syukur karena rumah persekutuan di tempat mbak Muji bisa dipakai untuk membuka 3 kelas. Namun, satu per satu para guru itu mulai mengundurkan diri karena tempat tinggal mereka semakin jauh dari Kepunton setelah berumah tangga.

Dengan terpaksa, kelompok kelas disusut menjadi 2, tinggal kelas kecil dan kelas besar. Sementara itu, masih ada mbak Muji, Doni, dan aku yang bergantian mengajar mereka. Mbakku ini termasuk tipe orang yang keras dan disiplin. Berkali-kali aku kena tegurannya karena masalah waktu. Aku sering tiba jam 16.15 padahal PA dimulai jam 16.30 🙂 Aku kalah rajin dengan anak-anak karena mereka sudah berdatangan jam 15.45.

Aku sendiri kagum dengan semangat anak-anak itu. Mereka rajin datang meskipun hari hujan. Dan ini yang membuat mbakku tidak tega. Semula dia pengin membubarkan PA ini karena toh sudah ada Sekolah Minggu di gereja. Namun, Allah terus menambahkan 1 per 1 jiwa baru dan hal ini membuatnya berkomitmen, “Meskipun tinggal 2-3 anak yang datang, aku tetap akan melayani mereka.” Kerinduan untuk semakin mengenalkan firman Tuhan dalam diri anak-anak yang dimiliki mbak Muji membuat Doni dan aku makin semangat untuk melayani anak-anak itu.

Saat melihat sukacita di wajah mereka tiap kali bersekutu di hari Sabtu, membuncah kerinduan supaya anak-anak itu juga makin sayang ama firman Tuhan. Segala upaya pun ditempuh para guru, mulai dari mengikuti workshop dan seminar Sekolah Minggu (SM) sampai mencari bahan-bahan mengajar SM termasuk langganan e-BinaAnak 🙂 Tujuannya cuma satu … tentunya bukan untuk menjadi saingan SM … tetapi supaya kami dapat menyajikan firman itu dengan cara yang menarik dan kreatif … kami ingin memberikan yang terbaik semampu yang kami bisa. A great privilege for us karena sejumlah anak itu dipercayakan kepada kami. Sukacita kami bertambah setiap kali kami mengetahui bahwa anak-anak yang telah “lulus” aktif dalam pelayanan remaja di gerejanya masing-masing.

Anak-anak itu datang dari beragam denominasi gereja. Keberagaman itu membuat kami berkeputusan untuk tidak mengikutsertakan alias mendaftarkan PA kami ke suatu gereja tertentu. Ini bukan karena kesombongan kami yang merasa mampu, tetapi mereka telah memiliki gereja sendiri dan ber-SM secara aktif di gerejanya. Rasanya tidak adil untuk “memaksa” mereka menginduk ke salah satu gereja. PA setiap Sabtu ibaratnya seperti suplemen tambahan. Dan kami pun mengingatkan mereka untuk ke Sekolah Minggu keesokan harinya.

Keputusan untuk tidak menginduk ke suatu gereja tentu mengandung konsekuensi besar. Segala kebutuhan dana untuk pelayanan itu harus ditanggung oleh para guru. Namun, tidak ada yang kami keluhkan karena kami percaya jika pelayanan itu dipercayakan kepada kami, pasti dicukupkan segala kebutuhan yang diperlukan. Memberikan yang terbaik senantiasa memotivasi kami. Dan demi mereka, rasa capek ketika harus lembur untuk mengerjakan banyak jahitan, mengajar les ke beberapa tempat, atau menyisihkan dana dari pendapatan kami, terbayar sudah.

Mengingat setiap perjalanan yang telah dilalui PA ini dan sukacita yang dialami ketika melayani anak-anak itu, sungguh berat ketika meninggalkan pelayanan itu karena aku harus pergi dari Solo. Yang paling memberati pikiranku adalah masalah siapa yang nantinya akan mengajar setelah aku pergi … ge-er banget nih. Aku ingat para perintis PA ini, mulai dari Kris Joko dan mas Hartono. Setelah mereka lengser, ada beberapa anak dari persekutuan pemuda yang mulai berkecimpung … ada Joko, Dinar, Tutuk, Giman, dan Ita. Setelah angkatan mereka, ada Doni, Erlin, dan aku. Terus setelah aku pergi?? Semula aku bener-bener kelabakan tentang siapa yang akan menolong untuk menjadi pengajar.

Kembali belajar dari mbak Muji … jika persekutuan anak ini ada karena perkenan Tuhan, semuanya pasti dicukupkan termasuk tentang siapa yang akan mengajar anak-anak itu. Aku jadi malu dengan perkataannya itu. Ada benarnya juga karena aku sendiri juga melihat banyak orang yang telah membantu jalannya persekutuan itu sejak perintisannya sampai sekarang.

Ketakutanku musnah sudah … pepatah mengatakan, “Mati satu, tumbuh seribu” … dengan kepergianku, justru ada banyak teman di kantor lamaku yang terbeban untuk ikut melayani di PA ini. Mulai dari Dono, Kris, dan Ari yang menjadi penggembira di saat Natal, lalu ada Elias, Pipin, dan Eviri yang aktif mengajar sampai sekarang, ditambah Daniel dan Raka yang sempat membantu pelayanan ini … thanks guys atas bantuannya 🙂 Tidak hanya tenaga yang mereka berikan, tetapi pikiran, waktu, dana, dan sumbangsih banyak mereka lakukan demi anak-anak itu.

Terlepas dari itu semua, apa yang kami lakukan adalah menabur benih di hati setiap anak yang datang di persekutuan Sabtu. Harapan kami, benih-benih itu akan tumbuh subur seiring dengan pertumbuhan mereka dari hari ke hari.

Dan berawal dari PA Betania ini, ada seorang teman di kantorku yang sekarang mengajakku bergabung dalam pelayanan baru … (to be continued)

Jakarta, 15 Februari 2008