Archive | August 2007

back to campus :)

Weekend kemarin (4-5 Agustus) aku ikut tim kantor yang mengadakan kunjungan ke Bandung. Seingatku ini perjalanan ketigaku ke kota Bandung … tetapi kali ini dalam rombongan kecil. Ada 6 orang termasuk aku yang melakukan kunjungan ini. Jadi ada Juni, Merry, Tina, Dwi, Amin, dan aku yang bersiap menuju Bandung.

Berangkat jam 7 pagi dari kantor di Cengkareng dan kami pun memasuki kota Bandung sekitar jam 09.45. Itupun setelah melalui peristiwa tidak mengambil tiket di loket tol yang ada di Pondok Gede Timur karena petugas tolnya tidak ada di tempat. Bersyukur karena di pintu keluar tol Pasteur, kami tidak dikenai denda dan membayar tol sesuai tarif. Kepala kantor hanya mengatakan bahwa dia memercayai cerita kami dan lain kali jangan diulang lagi katanya 🙂

Teman kami, Amin, yang mengendarai mobil pun bisa bernafas lega setelah di sepanjang jalan berdoa supaya jawabannya bisa diterima oleh petugas tol.

Setelah memasuki Bandung, mobil pun segera meluncur ke kampus Maranatha. Entah apa nama jalannya, yang pasti di situ ada 4 gerbang yang bisa dilalui untuk masuk ke Maranatha. Kami pun masuk melalui gerbang 2 dan memarkir mobil di dekat tempat parkir mahasiswa. Masih ada waktu untuk nyari makanan pengganjal perut. Sebenarnya tidak terlalu lapar sih karena di mobil ada beberapa camilan yang dikonsumsi tapi rasanya butuh yang hangat-hangat.

Ada warung makan yang modelnya sejenis food-court. Aku pun memilih soto babat tanpa nasi untuk sekadar menghangatkan perut. Selepas menyantap menu brunch, kami bergegas ke Maranatha untuk menemui pembina kerohanian.

Angan melayang ke masa-masa kuliah ketika aku menjejakkan kaki di lobi kampus. Bisa dibilang kampusnya lebih bagus dan keren dibandingkan dengan kampusku yang dulu. Ada lift yang membawa kami ke lantai 2 untuk menemui pembina kerohanian. Setelah membahas hal-hal yang telah diagendakan, kami pun dibawa ke lantai 8 untuk melihat ruang teater … mirip ruangan bioskop 21 J yang bisa menampung 400 orang. Ketika dibawa masuk ke bagian belakang ruangan, aku sendiri terpana melihat luasnya ruangan yang memang biasa dipakai untuk pementasan drama dari semua fakultas. Mungkin karena aku orang udik yang belum pernah menginjakkan kaki di kampus-kampus modern di Jakarta atau di kota-kota besar lainnya. Jadi aku menganggap kampus Maranatha tergolong dalam kategori bagus banget dari sarana infrastrukturnya.

Ketika melihat wajah-wajah para mahasiswa baru yang mengikuti test TOEFL di ruang teater di lantai 8, aku merasakan gairah mereka untuk menuntut ilmu dan sukacita mereka terbias karena bisa memasuki dunia perkuliahan … di tempat yang bagus pula.

Saat meninggalkan kampus Maranatha, ada banyak mahasiswa juga yang bergerombol di halaman depan. Terbersit kerinduan untuk mengalami masa-masa kuliah lagi … ada tawa, ada canda, ada gosip, ada rasa marah, ada dosen yang bikin sebal, ada dosen yang bikin kangen, dan banyak kenangan nano-nano ketika menjalani masa-masa perkuliahan. Tapi waktu terus bergulir dan kami pun harus segera meluncur ke tempat lain sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan.
Back to campus [this time is Maranatha] … It’s a sweet memory 🙂

Jakarta, 7 Agustus 2007

nasi uduk

Sudah sebulan ini ada tradisi baru di kantor untuk makan siang. Sekarang tiap Jumat, tidak ada lagi pesanan katering. Menu makan siang akan dimasak secara bergiliran oleh staf yang bisa masak atau dipesan dari rumah makan seperti nasi galung kemarin … masih ingat ceritanya kan?

Kali ini giliran nasi uduk yang disediakan oleh bibi tercinta. Si bibi ini jago masak lho karena dia bisa sendiri yang masak nasi uduk beserta rangkaian lauknya, sedangkan acara goreng-menggorengnya dilakukan di kantor.

Dulu pertama kali denger nasi uduk, terbayang nasi liwet khas Solo. Nasinya sih sama-sama gurihnya, meskipun tidak segurih nasi liwet Solo, tetapi rangkaian lauknya yang berbeda jauh. Nasi uduk ala Jakarta yang menjadi menu siang hari ini ditemani oleh sayur kentang, balado teri-kacang, ayam goreng bumbu kuning, orek tempe, pergedel kentang, telur dadar, emping, dan yang paling aneh adalah sambal kacang yang biasa dipakai sebagai sambal untuk sate madura. Aku ga terlalu suka nasi uduk karena bikin eneg di perut gara-gara gurihnya … tetapi jika ga ikutan makan bisa keroncongan nih perut…. Jadi kuambillah nasi uduk sepiring lengkap dengan rangkaian lauk yang tersedia. Yang orang Jakarta asli bilang jika masih ada yang kurang dari rangkaian lauk itu …bihun gorengnya. Walah, makan lauknya saja sudah kenyang apalagi ditambah bihun goreng …

Menu siang ini ditutup dengan es blewah & kelapa muda. Sangat menyegarkan untuk menggelontor rasa eneg yang mulai menjalari perut. … Kok aku mengeluh begini ya … kan nasi itu sudah didoakan dan ucapan syukur sudah dinaikkan untuk menu yang lumayan wah di siang ini … Thanks to bibi juga yang sudah menyediakan makanan enak ini

Jakarta, 3 Agustus 2007