Archive | July 2007

nasi galung

Sayang jika tidak diceritakan 🙂

Jenis makanan baru yang aku cicipi di belantara Jakarta ini disebut-sebut sebagai nasi galung. Sepintas dengernya nasi galuh … ternyata salah, nasi galung tepatnya. Yang sudah mencicipi dan menyukai nasi galung menceritakan tentang kenikmatan masakan ini. Akhirnya, kita-kita pun dibuat penasaran dan ingin mencoba makanan yang namanya unik ini. …sampai 2 kali makan 🙂 [Jumat, 20 Juli 2007 dan 25 Juli 2007]

Ketika makanan itu datang, tampak sekali kemiripannya dengan nasi padang. Yang jelas ada sayur nangka tetapi isinya lebih beragam …kacang panjang, kentang rebus, kobis, dan kuah santannya yang sangat enak. Lalu ada daun singkong rebus, trus bihun goreng, lengkap dengan sambal merah dan sambal ijonya. Lauknya sih bisa milih … mo pake rendang ato ikan goreng. Nah, sama kan dengan kombinasi nasi padang. Hanya yang bikin enak, ada tambahan teri goreng yang membikin nikmat saat menyantap nasi galung.

Begitu makanan itu pun tersedia di meja makan …”Oo, itu to nasi galung …,” pikirku. Tapi yang penting, aku sudah tau bagaimana bentuk dan rasa dari makanan yang berjudul unik ini .. nasi galung 😉

Jakarta, 27 Juli 2007

my first workshop

Ada 1 cerita yang kelupaan belum ditulis. Sudah sejak 2 bulan yang lalu, bos mengingatkan tentang workshop wajib yang harus diselenggarakan oleh tim editor. Aku sudah berlari-lari menghindar tapi akhirnya tetap “tertangkap” juga semenjak hari pelaksanaan workshop sudah ditetapkan.

Semula workshop mo diadakan tanggal 7 bulan 7 tahun 2007 tapi setelah dipikir-pikir kayaknya banyak yang ga akan bisa datang tuh … itu kan “hari bagus” kata banyak orang dan emang banyak orang yang merit pada hari itu. Akhirnya pelaksanaan workshop diundur seminggu lagi … tanggal 14 Juli 2007. Lega rasanya karena ada tambahan waktu seminggu lagi.

Hari berlalu dan tak terasa sudah menjejak di minggu kedua hari kedua di bulan Juli … persiapan workshop yang belum kelar segera dikejar. Aku pusing 7 keliling karena belum begitu bagus untuk melakukan koordinasi tugas. Mulai dari modul untuk penerjemah sampai urusan konsumsi, aku masih turun tangan. Seharusnya aku belajar percaya dengan orang-orang yang ditugasi untuk melakukan tugas itu. Akhirnya 2 hari sebelum hari-H, aku melakukannya. Urusan modul sudah ditangani “ahlinya” dan urusan pemesanan makanan sudah ditangani oleh Asioe. Sedangkan urusan perlengkapan makan dan juga pengaturan ruang dibantu oleh Roy dan Lela.

Setelah beres, Jumat sore pun aku bisa pulang ke kos dengan perasaan lega. Di kos sudah menanti dua teman yang dulu pernah sekantor di Solo, Lisbet dan Ani. Kami bertiga ramai bercerita tentang pengalaman-pengalamannya Ani dan pekerjaan barunya. Sampai waktunya tidur, aku tidak sempat melakukan persiapan. Setelah terlelap, pagi-paginya aku bangun agak gasik. Setelah sa-te, ada waktu satu jam untuk mempersiapkan diri untuk mensharingkan modul yang telah kupelajari.

Akhirnya jam 8 pagi sudah siap pergi ke kantor. Memanfaatkan kehadiran Ani dan Lisbet yang menginap di kamarku, aku meminta dukungan doa mereka dan aku mensharingkan “ketakutanku” untuk menjalani hari itu. Dukungan mereka dan juga sms dari abang menambah semangat untuk melangkahkan kaki ke kantor.
Tiba di kantor dan ruang meeting pun sudah diatur oleh Lela. Aku tinggal menyiapkan beberapa hal kecil yang perlu ditambahkan, modul yang akan dibagikan, dan buku-buku yang menjadi contoh.

Satu per satu undangan pun datang. Senang ketika bertatap muka secara langsung dengan para penerjemah yang selama ini telah banyak membantu pelayanan di kantor. Jam sudah menunjukkan pukul 09.05 dan baru 5 yang muncul dari 10 undangan yang menyatakan kesediaannya untuk datang. Namun, acara tetap harus jalan sesuai jadwal dan jam 09.15 acara pun dimulai. Hatiku makin dag-dig-dug karena setelah acara opening ceremony yang dipimpin oleh Asioe dan Lukas, dan sambutan dari bos, giliranku pun tiba. Jam 10.00, aku pun sudah berdiri di hadapan 6 undangan dan 6 staf RBC … sharing tentang metode penerjemahan pun ku mulai. Tak terasa waktu pun berjalan dan satu per satu metode kujelaskan lengkap dengan contoh-contoh yang kuambil dari buku-buku Santapan Rohani yang kubawa. Diselingi pula dengan diskusi dan masukan dari para penerjemah ketika menerjemahkan istilah-istilah tertentu. Sempat kalimat, “Saya grogi saat ini …,” meluncur dari mulutku. Salah satu penerjemah menimpali, “Saya belum makan orang, kok … tenang saja.” Dan tak terasa sesi yang kubawakan sudah berakhir … rasanya lega. Kemudian dilanjutkan dengan sesi kedua yang membahas tentang penggunaan bahasa selingkung untuk terjemahan kantor dan kesulitan-kesulitan yang dihadapi para penerjemah. Setelah sesi kedua selesai, ada sharing dari penerjemah yang menguatkan kami.

Mereka menyatakan bahwa menjadi salah satu penerjemah adalah suatu hal istimewa dan mereka tidak menganggapnya sebagai beban. Ada juga yang mengatakan jika mereka mendapat berkat dari pertemuan ini dan sebaiknya diadakan secara rutin.

Suasana pertemuan tersebut memang dibuat sesantai mungkin. Selain beberapa makanan dan minuman (meski hanya aqua) tersaji di meja meeting, ternyata para penerjemah suka banget bercanda. Suasana menjadi hidup dan penuh canda … menyenangkan sekali ketika berada di tengah-tengah mereka. Jarak usia tidak membatasi kami untuk saling “ngerjain” 🙂

Jarum jam bergerak dan menunjukkan pukul 12.15, pertemuan itu ditutup dengan doa makan dan kami pun makan bersama. Di meja makan sudah tersaji makanan yang disiapkan oleh Roy dan Lela. Kerja mereka sangat bagus … sampai aku merasa jika tanpa bantuan mereka, acara ini tidak akan “sempurna” 🙂 Meskipun jamuan makannya sederhana, para penerjemah ternyata menikmati ayam tulang lunak dan bandeng presto ala Hayam Wuruk, ditemani cah kangkung-teri ala Batam … yang cukup yummy 🙂 Aku sendiri sempat ketakutan jika menu itu kurang “mewah” bagi mereka … ternyata mereka justru sangat suka dan dilengkapi dengan es puding-leci … meski kurang manis tetapi menyegarkan rasanya 🙂

Acara diakhiri dengan foto bersama. Semula niatnya foto diambil sebelum makan, tapi entah kenapa kameranya lobet … jadi perlu disetrum kata fotografernya. Alhasil, foto bersama diambil setelah acara makan. Jadi jangan heran jika wajah-wajah kami sudah berminyak 🙂 Dan satu kalimat yang cukup menyejukkan dari bos yang diucapkan ketika para undangan sudah pulang, dan ruangan telah lengang, “You all have done a great job for the meeting …” Wow … ada perasaan lega campur haru mendengar kalimat itu dan aku pun mengayunkan kaki menuju kos dengan penuh sukacita. Aku tau bahwa itu semua bisa terjadi karena ada kerja tim. Terlebih dari itu, ada Pribadi yang telah turut bekerja mulai dari awal sampai akhir acara.

My first workshop has done … thanks my dearest, Father 🙂

Jakarta, 20 Juli 2007

my little hani

Sepulang kantor (Senin, 16 Juli 2007), aku bergegas menuju rumah sakit. Bersyukur karena ada Tina sehingga bisa nebeng mobilnya sampai di halte busway yang paling dekat dengan kantor. Jalanan cukup lengang dan penumpang busway pun tidak terlalu berjubel seperti biasanya. Ada temen sekantor yang naik busway juga dan kami pun berpisah di halte Harmoni. Setelah ganti busway, aku sampai di rumah sakit jam 18.50. Yang kujumpai di kamar perawatan hanya sepupuku. “Hani masih di HCU (High Care Unit),” katanya. “Baru keluar dari ruang operasi jam 17.00,” lanjutnya. “Lama sekali operasinya,” batinku ketika menyusuri lorong menuju ke lantai 3, tempat ruang HCU berada. Sesampainya di HCU, om Joko dan beberapa tanteku sudah ada di sana. Setelah memakai baju khusus ruang HCU (yang sebenarnya ga ku tau apa fungsinya karena toh naruhnya di ruang luar juga), aku bisa masuk ke ruangan dan melihat Hani sekilas. Di kepalanya ada perban besar dan banyak selang yang dipasang di tubuh mungilnya — selang infus, selang oksigen, denyut jantung, pengukur tekanan darah, dan entah apa lagi. Jam bezuk pun berlalu dan aku pun harus ke luar dari HCU termasuk mamanya. Sempat terdengar dia memanggil, “Mama …” … tetapi mamanya pun tetap harus ke luar ruangan. Jika dia nangis, baru lah mamanya dipanggil oleh perawat.

Percakapan-percakapan ini adalah hasil cerita dari om Joko saat menjelang operasi ….

“Hani ga mau potong rambut, Ma … pengin rambut panjang…”
(“Tapi nanti dokternya akan memeriksa kepala Hani di bagian ini ni .. di belakang kepala. Kan ga keliatan jika rambutnya tidak dipotong. Ntar juga cepet tumbuh lagi kok,” bujuk mamanya. Karena rambutnya tebal, Hani pun diboyong ke salon yang ada di dekat rumah sakit. Dia nyalon dulu sebelum dioperasi karena pisau cukur perawatnya tidak bisa mengatasi ketebalan rambutnya. Kepalanya pun dibotakin 🙂 )

“Ma … Ma … infus itu apa?” cecarnya ketika perawat hendak memasangkan infus di tangannya.
“Sakit ga, Ma?” tanyanya
(“Infus itu obat cair. Hani perlu obat dan nanti obatnya jalan lewat selang ini nih. Sakitnya seperti digigit semut. Sakit sebentar kok … Hani pengin cepet sembuh, kan?” jelas mamanya.)

“Ma … aku dibawa ke mana? Aku ga disuntik kan, Ma?” tanyanya ketika tempat tidurnya didorong menuju ke kamar operasi.
(Ga … nanti Hani tidak disuntik. Hanya diperiksa saja kepalanya. Dokternya sudah nunggu di ruangan itu tuh,” jelas mamanya sambil menahan tangis.)

“Da…da…, Ma …da… da…,Pa, da… da… Eyang,” kata Hani ditengah isak tangisnya sambil melambaikan tangan ke mama, papa, dan eyangnya saat pintu kamar operasi menjadi pembatas yang tidak bisa dilalui lagi. Tangis pun pecah begitu pintu itu tertutup rapat dan Hani tidak terlihat …

Detik demi detik berlalu … sejak jam 12.30 masuk ke kamar operasi. Sudah 2-3 jam berlalu tapi tidak ada tanda-tanda Hani dikeluarkan dari kamar operasi. Akhirnya jam 17.00 pintu kamar operasi pun terbuka dan Hani pun dibawa keluar. Dia sudah setengah sadar dari pengaruh bius totalnya.

“Pulang … Ma,” ujarnya lirih saat melihat mamanya.
(“St..st…pulangnya nanti ya …Hani sembuh dulu supaya bisa cepat pulang,” hibur mamanya. Dan Hani pun tertidur lagi.)

Tiba-tiba dia berteriak, “Ma … buang, Ma … guntingnya itu, Ma. Hani takut, Ma,” jeritnya.
(“Hani … guntingnya sudah tidak ada. Sekarang mama sudah ada di sini. Ga perlu takut, ya,” kata mamanya. Rupanya Hani menggigau karena pengaruh biusnya masih bekerja.)

“Ma … Ma … jangan pergi ya,” pintanya. Itu kalimat yang kudengar langsung saat menjenguknya di HCU. Setelah itu, dia tertidur lagi.

My little Hani … cepat sembuh ya, sayang … Itu harapan kami semua. Biang keladi dari melimpahnya cairan di otaknya sudah ditemukan. Ada daging tumbuh seujung jari yang menyumbat saluran cairan di kepalanya. Cairan sudah dibersihkan dan daging penyumbat itu juga sudah dibuang. Sekarang tinggal menetralkan jumlah cairan di kepalanya dan selang masih terpasang di kepalanya. Setelah volume cairan netral, selang itu pun bisa dilepas.

My poor little Hani …

Jakarta, 19 Juli 2007

my hani

Baru Jumat kemarin (6 Juli 2007) diadakan acara untuk memperingati 100 hari meninggalnya tanteku (cerita Tabur-Tuai) dan Sabtu lalu aku mendapatkan sms yang mengejutkan dan tidak terduga sama sekali.

Aku putus komunikasi dengan omku yang tinggal di Senen, alias aku malas banget untuk berkunjung ke rumahnya. Jangankan berkunjung, untuk menelepon saja bisa dikatakan tidak pernah selama 2 bulan lebih 😦 … aku benar-benar kebangetan nih … Gara-gara itu, aku sendiri tidak tau jika ada peringatan 100hari-nya tanteku dan ketika keponakanku, Hani (cucunya om Joko), dirawat di rumah sakit.

Jika tanteku yang di Bogor (mbak Marni) tidak mengirimkan sms, aku tidak pernah tau bahwa Hani masuk rumah sakit. Aku merasa bersalah banget karena selama ini tidak pernah menelepon ke Senen. Aku telepon mbak Marni untuk menanyakan secara lebih detil. Mbak Marni bilang jika om Joko “marah” karena aku sudah tidak pernah telepon ke Senen. Jika aku pengin tau tentang Hani, aku dimintanya untuk telepon om Joko atau ke ortunya Hani. Hatiku langsung deg-deg-an karena terus terang aku tidak berani dan sungkan banget rasanya untuk telepon om Joko.

Akhirnya hari Minggu pagi pun, kuberanikan diri untuk telepon. Pertanyaannya sederhana tapi bikin hatiku hancur, “Kowe akeh gaweyan ya (kamu banyak kerjaan ya)? … Klambiku sing saka Solo isih mbok gawa (Bajuku yang dari Solo masih kau bawa)? Diterne neng Senen ya, yen wis ana wektu (Diantar ke Senen ya, jika kamu ada waktu).”

Perkataan-perkataan itu seperti menampar hatiku. Aku mah tidak sesibuk pejabat tapi kok ya ga ada waktu bahkan untuk telepon. Sepulang ibadah, aku langsung pergi ke rumah sakit … tempat di mana dulu tanteku (yang barusan meninggal) dirawat. Kali ini aku menuju ke ruang Badar, bangsal khusus untuk merawat anak-anak. Aku pun bisa bertemu Hani. Umurnya baru 6 tahun lho tapi badannya sudah bongsor.

Aku nanya-nanya tentang penyakitnya dan ternyata memang ada kelebihan cairan di kepalanya yang harus dikeluarkan. Gejala-gejalanya sih mulai terlihat sejak neneknya meninggal. Cara jalannya Hani sudah mulai miring-miring dan kakinya berjinjit tiap kali melangkah. Jika dia berdiri, tiba-tiba bisa jatuh sendiri atau terduduk. Ortunya sudah memeriksakan ke dokter anak yang mengatakan jika tidak ada masalah dengan kesehatannya Hani. Namun, karena gejala-gejala tadi makin menjadi, ortunya membawa Hani ke dokter saraf dan menjalani ct-scan hari Rabu (11 Juli 2007). Akhirnya tampaklah kelebihan cairan di kepalanya dan operasi tidak bisa ditunda lagi sebelum cairan itu merajalela. Penyakitnya tersebut hampir mirip dengan hydrocephalus, tetapi belum terlalu parah. Jika terlambat didiagnosa, anak yang menderitanya akan mengalami kebutaan karena cairan itu sudah menarik saraf-saraf penglihatannya.

Penyakit itu sungguh tidak terduga dan aku tidak tega melihat anak sekecil Hani akan menjalani operasi di kepala untuk mengeluarkan cairan itu. Operasi diadakan hari Senin ini (16 Juli 2007) jam 13.00. Saat aku menengoknya, anaknya masih biasa-biasa saja … masih banyak makan dan minta main perosotan yang disediakan di bangsal Badar.

Melayangkan pandang ke bangsal Badar ini bisa membuat hati trenyuh. Ada beberapa bayi yang dirawat dengan infus yang terpasang di tangan dan kaki mungil mereka. Ada anak yang baru saja menjalani operasi pengangkatan bisul di sebelah telinga kanannya, dan ada banyak lagi anak yang dirawat di bangsal itu. Dan hari ini, giliran Hani yang akan dioperasi ….

Jakarta, 16 Juli 2007

daisuki da yo

Di suatu akhir pekan, sahabat saya mengirimkan 2 sms. Ketika menggabungkan kedua sms itu tercipta kalimat, “Dengan begitu banyak kesedihan, perpisahan & kepahitan di sekitar kita, aku cuma mau bilang: Daisuki da yo.” Bagi yang mengetahui bahasa Jepang, tentu mengetahui arti kata-kata terakhir itu. Dalam bahasa Indonesia, artinya “aku sungguh-sungguh mengasihimu.”

Daisuki da yo terlintas ketika saya membaca Lukas 23:32-43. Beberapa prajurit sibuk menyalibkan Yesus. Setelah salib itu tegak berdiri, kesibukan mereka belum berakhir. Mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya, mengejek-Nya, dan mengolok-olok-Nya. Namun dari mulut Yesus terucap kata, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (ay. 34). Yesus rela menanggung hukuman kejam itu demi membebaskan manusia ciptaan-Nya dari belenggu dosa, meskipun mereka telah berbuat jahat kepada-Nya. Di tengah-tengah penderitaan-Nya di atas salib, kepedihan hati karena terpisah dari Bapa-Nya, Yesus tetap menunjukkan perhatian-Nya kepada manusia.

Perkataan dari penjahat yang tersalib di sebelah-Nya menyentakkan saya, “…. Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah” (ay.41). Kalimat “Kita memang selayaknya dihukum” mengusik hati saya. Seharusnya saya yang digantung di atas salib itu. Dosa saya terlalu banyak untuk dihitung yang membuat saya sebenarnya layak untuk dihukum. Namun, Yesus bersedia mengambil alih hukuman yang seharusnya saya terima. Dan bahkan saat di atas salib pun, mata dan hati Yesus tertuju pada manusia yang dikasihi-Nya, yang mengungkapkan, “Daisuki da yo … Aku sungguh-sungguh mengasihimu sehingga Aku rela menanggung hukuman yang selayaknya engkau tanggung.”

Yesus sendiri mengatakan, “Daisuki da yo” ketika kedua tangan-Nya terentang di kayu salib, bagaimanakah tanggapan Anda?

Jakarta, July 06, 2007