Archive | May 2007

potong rambut

Tanpa terasa, rambutku sudah melebihi batas leher dan bahu. Biasanya aku ga pernah sepanjang ini. Emang rasanya agak risi dengan rambut yang panjangnya cepak dan terkesan acak-acakan. Namun, karena kesibukan tugas di kantor, aku ga sempat meluangkan waktu untuk potong rambut. Lagi pula, aku juga jauh dari ibuku yang biasanya paling ribut jika rambutku sudah mulai acak-acakan.

Long weekend kemarin, aku punya kesempatan pulang ke Solo. Nah, apa yang kutakutkan terjadi juga. Aku sampai di Solo jam 14.00. Begitu menyapa ibuku dan memeluknya, kalimat pertama yang diucapkan adalah, “Rambutnya cepetan dikucir…acak-acakan seperti itu dan ga enak dilihat.”

Karena ga mau diuber-uber ibuku dengan kalimat itu, akhirnya aku memutuskan untuk potong rambut. Sahabatku nyaranin u/ nyoba satu salon di Matahari Singosaren. Karena waktuku ga keburu (jam 18.00 harus sudah ada di rumah simbah u/ ikut biston keluarga), aku pergi ke salon di dekat rumah.

Pengin ganti model rambut. Semula cuma potongan zagy pendek, kali ini pengin model bob. Namun hasil potongannya mengecewakan. Tapi aku males kembali ke salon itu, takut jika hasil guntingannya ga kebeneran lagi.

Keesokan harinya, setelah nganter adikku les keyboard, aku langsung menuju ke Matahari Singosaren. Salon itu ada di lantai 3 (jika tidak salah ingat). Selesai dikeramas, aku sudah duduk di salah satu kursinya. Kulihat ada 3 orang stylist yang sedang sibuk. Kupikir aku akan menunggu mereka menyelesaikan tugasnya. Sudah mulai bingung juga karena aku ga bawa buku bacaan sama sekali. Namun apa yang kupikirkan tidak menjadi kenyataan. Tiba-tiba sudah ada seorang stylist yang berdiri di belakangku. Yang kuharap stylistnya cewek, eh … malah stylist cowok yang nongol. Aku sdh bingung dengan model apa yang bagus untuk wajahku … ternyata dia tambah bingung lagi. Masalahnya karena hasil guntingan rambutku yang kemarin sudah terlalu pendek. Ada dua pilihan yang diberikan: merapikan model bobnya atau mengganti potongan rambutku (dipendekkan lagi dengan menambah trap). Karena emang model bobnya sudah ga berbentuk, aku ambil pilihan yang kedua.

Saat memotong rambutku mengalir cerita dari mulutnya. Ternyata dia punya keluarga di Taman Kota, daerah di dekat Cengkareng. Selain itu, dia juga cerita jika salon itu punya cabang di beberapa kota termasuk di PangkalPinang, Surabaya, Bandung, dan Jakarta. Dia sudah dimutasi dari satu tempat ke tempat yang lain. Cerita tentang seluk beluk kerjaan di salon dan bagaimana dia merintis keahliannya … mulai dari tukang creambath, lalu mengikuti kursus stylist, dan akhirnya dipercaya menjadi stylist di salon tersebut. Kisah tentang pengalamannya yang menakutkan di PangkalPinang dan rasa tidak betahnya kerja di Solo karena ga ada kecengan πŸ™‚ Menurut dia, salonnya itu lumayan sepi dan jika sepi, tidak banyak tips yang masuk ke kantongnya. Meski begitu, dia sudah 6 bulan kerja di Solo. Jika ada stylist baru yang masuk, dia akan segera cabut dan kembali lagi ke Jakarta … eh, tergantung mo diutus ke mana oleh bos besar yang memiliki keseluruhan salon.

Rasanya menyenangkan ketika mendengarkan orang bercerita. Kali ini aku bisa mendengar cerita dari seorang stylish. Sejam kemudian aku sudah melangkahkan kaki keluar dari salon itu dengan potongan rambut yang baru πŸ™‚ Baru kali ini juga aku memberi tips untuk si stylist. Bukan karena ceritanya yang menyentuh tetapi katanya emang sudah menjadi tradisi untuk memberikan tips bagi para pekerja salon atas pelayanan mereka….tradisi di Jakarta maksudku πŸ™‚ (Surakarta, 17-18 Mei 2007)

Jakarta, 28 Mei 2007

tamu datang . . . hp melayang

Kemarin malam (03 Mei 2007), aku baru sampai di kos jam 21.30. Ada acara gladi kotor di GKY Mangga Besar untuk persiapan Bible Conference minggu depan. Rasanya capek dan sudah pengin membaringkan badan saja, tapi temenku sekantor yang ga ikutan gladi kotor juga pas pulang dari Tomang. Dia mampir ke kamarku dan ngobrol bareng. Saat masih ngobrol tentang pelaksanaan gladi kotor, muncul seorang anak kos yang mengabarkan sesuatu yang mengejutkan. “Mbak, mbak … sudah tau ada berita kehilangan atau belum?” tanyanya.

Kami berdua serentak menjawab, “Belum. Kehilangan apa?” Anak itupun cerita tentang kronologi peristiwa yang terjadi sekitar jam 17.30. Ada seorang pria yang mencari penjaga rumah kos yang kami tinggali. Dia bilang sudah mencarinya di rumah bapak pemilik kos. Setelah mendapat jawaban jika penjaga itu tidak ada di kos-kosan, pria itu minta izin untuk pergi ke toilet. Tanpa menaruh curiga, ada 3 anak kos yang melanjutkan acara nonton tv-nya. Mereka duduk di karpet sehingga mereka tidak dapat melihat lorong yang menuju ke toilet. Pria itu pun menuju ke toilet dan beberapa saat kemudian pamitan pulang.

Beberapa waktu kemudian, salah satu dari 3 anak yang nonton tv tadi menuju ke kamarnya. Dia mendapati pintu kamarnya sudah terbuka. Lalu dia ribut nyariin hp yang ditaruhnya di atas tempat tidur. Dicarinya di berbagai sudut kamar, tetapi hp-nya tidak kunjung ditemukan. Akhirnya ditarik kesimpulan, tamu tak diundang tadi telah mengambil kesempatan untuk masuk ke kamarnya. Tangisan pun merebak karena hp yang hilang dicuri orang. Anak yang kehilangan hp itu tidak berani segera telepon keluarganya yang ada di Ternate. Namun, mengulur waktu bukan solusi yang tepat. Akhirnya dia pun telepon mamanya dan melaporkan kehilangan itu. Apakah mamanya marah? Pastilah sudah tau jawabannya …

Peristiwa kehilangan itu membuat kami lebih hati-hati. Selama 9 bulan tinggal bersama mereka, dalam 7 bulan terakhir, kami sudah jarang mengunci pintu kamar masing-masing. Modalnya adalah saling percaya. Dan memang, aman-aman saja sampai peristiwa hp yang hilang itu. Terus terang agak sulit untuk membiasakan diri lagi mengunci pintu kamar. Biasanya ke kamar mandi atau mencuci atau nonton tv dengan membiarkan pintu dalam keadaan tidak terkunci. Namun, setelah peristiwa hilangna hp itu, kami jadi mulai rajin mengunci pintu kamar masing-masing. Ada hikmahnya juga dari peristiwa kehilangan tersebut.

Jakarta, 04 Mei 2007

boneka gratis :)

Berawal dari iseng belaka … sekarang jadi ketagihan. Rupanya sudah menjadi tradisi bagi “salesman” kartu kredit di Jakarta untuk memberikan “upeti” bagi mereka yang apply kartu kredit.

Semula aku ga berniat sih untuk apply kartu kredit. Takut ga kuat mbayar tagihannya. Namun, ada iming-iming menarik yang diberikan. Selain free abonemen selama setahun, setiap yang apply akan mendapat satu boneka, entah permohonan kartunya lolos ataupun tidak.

Nah, gara-gara boneka gratisan itu, aku mencoba untuk apply kartu kredit dari Lippo Bank. Salesmannya datang ke kantor dan kebetulan ada 3-4 orang yang mo apply. Dia sudah menyediakan boneka dolphin sebagai apresiasi. Aku ikutan apply ceritanya tapi aku ga suka model bonekanya. Dengan iseng aku nanya, “Ada yang model anjingkah?” Ternyata dia masih ada sisa satu stok boneka anjing. Bentuknya lucu banget. Boneka anjing berwarna biru yang berbentuk bantal ini menjadi koleksi pertama dari boneka gratisan yang kumiliki. Meski aku ga berhasil memperoleh kartunya, boneka lucu itu sudah cukup bagiku.

Ternyata tidak bisa berhenti sampai di situ. Tiap kali ada salesman kartu kredit yang datang, pertanyaan utama yang kuajukan adalah, “Bawa boneka ga?” Kali kedua, yang datang dari bank Niaga. Aku ikutan apply dan boneka teddy bear warna pink menjadi milikku. Bonekanya emang mungil dan biasa-biasa saja. Namun, rasanya seperti ada kepuasan tersendiri saat memperoleh boneka itu. Ternyata tidak hanya boneka, kartu kredit Niaga-pun kudapatkan. Tapi setelah itu, aku yang kebingungan, mo kuapain tuh kartu. Aku ga hobby kredit. Mungkin kartu itu akan nganggur untuk sementara waktu sampai aku membutuhkannya nanti.

Kali ketiga, ada tawaran free abonemen setaun lagi dari bank Mandiri dan bank Mega. Aku sih ikutan apply juga. Bukan karena naksir kartunya lho … tapi karena bonekanya yang kuincar. Sayangnya kali ini aku cuma dapat 1 boneka anjing yang hampir mirip dengan boneka pertama yang kuperoleh. Hanya kali ini warnanya pink. Seharusnya dapat 2 sih … tapi sudah ga ada persediaan lagi.

Yang terakhir ini, ada tawaran kartu kredit dari bank Danamon. Seperti biasalah, aplikasi ku isi dan sebagai gantinya, boneka winnie the pooh mungil menjadi milikku. Sekarang ada 4 boneka gratisan di lemariku. Rasanya belum pengin berhenti untuk memperoleh lebih banyak lagi πŸ™‚ Aku juga ga habis pikir, hobiku kali ini cukup aneh. Boneka-boneka itu hanyalah cenderung boneka biasa tapi rasanya menyenangkan ketika mendapatkannya. Kartu kreditnya sih ga peduli … bersyukur jika permohonannya lolos dan tetap senang meski permohonannya diabaikan.

Jakarta, 03 Mei 2007

ukuran siapa yang kupakai?

Beberapa hari ini aku mencoba untuk mengingat apa yang sebenarnya membuatku gampang iri hati atau cemburu. Merunut dari beberapa cerita yang kutulis ditambah dengan beragam pengalaman yang telah kualami semenjak di Solo sampai di Jakarta sekarang ini, aku seperti berhadapan dengan sebuah cermin besar. Aku melihat ada pola yang hampir serupa setiap kali aku jatuh dalam hal cemburu atau iri hati.

Aku menginginkan perhatian dalam bentuk yang sama. Dengan kata lain, jika orang lain mendapatkan A, aku juga harus mendapatkan A. Seringkali bentuk ini lebih mengarah kepada materi tetapi bukan berarti aku cewek matre lho πŸ™‚ Contohnya seperti yang kutulis dalam cerita “Who is my fairy-god father?” dan “Aku Cemburu …” Keinginan untuk mendapatkan materi yang sama ini telah membutakan mataku. Ketika aku mendapatkan B ketika beberapa orang mendapatkan A, aku sudah mengeluh dalam hati. Mengapa dia hanya memberikan B? Apakah aku tidak pantas mendapatkan A?

Setelah kusadari, sikap itu kan aneh. Ya jelas terserah sang pemberi ketika dia berkehendak memberikan sesuatu kepada orang lain. Aku kan ga bisa ngatur atau protes karena pemberian itu keluar dari hati. Tentunya dia juga mempunyai pertimbangan sendiri, mengapa memberikan A kepada teman-temanku dan memberikan B kepadaku. Selain itu, ada kemungkinan bahwa B yang diberikannya itu jauh lebih sesuai dengan kebutuhanku.

Karena itu, dari pola yang pertama ini, solusi yang harus aku lakukan adalah mengucap syukur dengan apa yang diberikan kepadaku dan merasa cukup dengan apa yang kumiliki. Dengan kata lain, menahan keinginan untuk memiliki “lebih”. Namun, apakah keinginan itu salah? Tidak sih … tergantung apa yang kuinginkan. Jika sudah sampai ke taraf cemburu hati atau iri hati, aku harus tahu kapan aku menghentikan keinginan untuk mendapatkan “lebih”. Juga belajar tidak menyesali ketika apa yang kuterima “tidak sama” dengan yang diterima oleh orang lain.

Babak ini benar-benar mengajarku untuk tidak mengandalkan pemikiranku sendiri. Jika aku mempunyai sikap seperti ini kepada teman-teman di sekelilingku, apakah aku juga memperlakukan Allah dengan cara yang sama? Apakah aku akan bersungut-sungut dan iri hati ketika Allah memberikan berkat yang beragam kepada orang-orang yang dikasihi-Nya? Waduh, jika aku terus-terusan mengandalkan pengertianku sendiri dan nyaris melupakan segala kebaikan-Nya yang telah kurasakan, aku bisa stres nih karena mengukur segala sesuatu dengan ukuran dan pengertianku sendiri.

Uniknya, ada hal kecil yang membuatku tersenyum pagi ini. Seperti biasa, jika ada bahan khotbah yang disiapkan boksu, aku diminta untuk memperbaiki kalimat Indonesianya. Aku seneng sih untuk membantunya meskipun aku menganggap dia sama sekali tidak menaruh perhatian padaku … kecuali untuk editing πŸ™‚ Setelah selesai proses editing itu, boksu pergi ke dapur dan ternyata memotong roti yang menjadi bekal untuk sarapan paginya. Roti daging bertabur abon πŸ™‚ Dia memakan sepotong dan potongan lainnya ditawarkan kepadaku. Wow .. aku terkejut juga karena tawaran itu diberikan. Sayangnya, aku masih kenyang. Jadi tawaran itu kutolak dengan halus. Akhirnya aku menerima “sedikit” perhatian darinya dalam wujud roti πŸ™‚
Meskipun demikian, hatiku tetap tersentuh. Benar-benar rugi jika aku terus berkutat dalam kecemburuan dan iri hati yang berasal dari ukuranku sendiri.

Ayat referensi: Amsal 3:5-6; Matius 20:1-16; 1 Timotius 6:6-8

Jakarta, 03 Mei 2007

mie riau

Hari Minggu kemarin (29 April), aku ikut dengan rombongan kantor yang mengadakan book display di sebuah gereja. Itu adalah tempat bos kami beribadah. Ternyata setelah ibadah pertama selalu ada kelompok kecil yang bertemu untuk kembali membahas firman Tuhan. Kebetulan teman bos kami pintar memasak mie Riau dan itu menjadi makanan favoritnya. Dia sudah promosi jika mie Riau buatan temannya itu sangat enak. Sehari sebelumnya, bos kami sudah mengirim sms ke temannya itu. Dia pamit dan tidak bisa mengikuti kelompok kecil selesai ibadah 1. Alasannya karena dia masih akan presentasi tentang program dan produk kantor kami di ibadah 2. Tidak hanya itu saja, bos kami juga mengatakan akan mengajak 4 orang. Dia minta supaya temannya itu juga memasakkan bagi rombongan yang akan dibawanya ke gereja.

Sekitar jam 08.00, kami telah tiba di gereja. Sarapan juga ada yang nraktir. Temanku mengajak ibunya yang baru datang dari Cilacap. Ibunya temenku itu belum sarapan. Oleh karena itu, dia memesankan sate untuk kami berenam. Selesai makan, kami pun sudah siap di belakang meja display.

Nah, siang harinya, bos kami membagikan mie Riau kepada kami. Ada nama aslinya sih … tapi aku sudah lupa nih πŸ™‚ Namun, perutku rasanya kenyang banget. Aku ga bisa langsung makan di tempat itu. Masih kekenyangan setelah makan sate seporsi tadi pagi. Sepulang acara itupun aku juga belum ada niat untuk makan. Mie Riau baru bener-bener kunikmati sepulangku dari gereja, sekitar jam 20.00.

Bahan dasar mie Riau mirip dengan e-Mie. Bentuk mie-nya seperti spaghetti, ada potongan cakue, taouge rebus, kentang rebus, irisan mentimun, telur rebus, irisan cabe rawit, dan kuahnya. Ternyata enak sekali. Kuahnya mirip sambal gado-gado ala Solo. Rasa kacangnya sangat terasa dan lumayan manis. Ada titipan pesan dari bos kami bahwa kuahnya akan tambah nikmat bila disajikan panas-panas. Mengingat pesan itu, kuahnya aku panasi dulu dan kenikmatan mie Riau pun terasa banget di mulut. Bagiku secara pribadi, mie Riau jauh lebih enak dari e-Mie. Santapan itu kutambah dengan caisim rebus (sawi hijau) yang masih merupakan sayur kegemaranku. Biarpun ga matching, aku tetap menikmatinya dan sungguh-sungguh caisim menambah kenikmatan. Bos pun berencana untuk meminta temannya itu untuk memasakkan mie Riau dan dibawa ke kantor suatu hari nanti.

Jakarta, 01 Mei 2007