Archive | April 2007

aku cemburu

Ceritaku ini masih terkait dengan cerita “Who is my fairy-god father?” … Aku pikir aku sudah terbebas dari rasa kecemburuanku ini tapi ternyata …

Berawal saat mo berangkat kerja di hari Selasa pagi (24 April 2007), frame kacamataku patah. Otomatis sejak saat itu, aku memasuki dunia samar-samar ke mana pun aku melayangkan pandang. Berhubung banyak acara di hari itu, aku tidak punya waktu untuk pergi ke optik. Ada alasan lainnya juga sih … dana untuk beli kacamata baru juga belum ada. Maklum lah belum gajian …hehehe. Akhirnya baru keesokan hari aku ke optik yang ada di dekat rumah kos. Namun sayang, kacamatanya tidak bisa langsung jadi. Aku harus nunggu sampai Kamis siang. Alhasil, selama 2,5 hari aku hidup dalam dunia yang “tidak jelas”.

Masalah mata sih tidak terlalu membebani tapi masalah cemburu hati yang membuat mataku berkaca-kaca lagi. Kupikir aku sudah lebih kuat menghadapi kenyataan ketika teman-teman seruanganku mendapat limpahan berkat, khususnya dari boksu yang juga seruangan denganku. Ternyata aku masih gagal … saat kulihat boksu itu membalutkan hansaplast ke jari-jari seorang temanku (jari-jarinya lecet karena bergesekan dengan semen putih saat dia merapikan pembatas antar keramik untuk lantai rumahnya). Mataku kembali berkaca-kaca … karena sudah 2 hari lebih aku tidak memakai kacamata, tetapi tak ada satu komentar pun terucap dari mulut sang boksu. Sering berpikir, what’s wrong with me? Mengapa sang boksu hanya memerhatikan kedua temanku?

Kuakui jika keduanya adalah orang dengan tipe ekstrovert–keceriaan mereka membuat banyak orang suka dan mudah deket plus mudah sayang dengan mereka. Sedangkan tipeku bertolak belakang. Aku termasuk tipe introvert–terlalu pendiam dan jarang bicara. Apakah karena itu?

Minggu siang kemarin (29 April 2007), aku sempat semobil dengan sang boksu dan bosku sepulang dari acara book display di suatu tempat. Bos berkomentar, “Kamu sakit ya? Kok wajahmu keliatan pucat?” Aku sih merasa biasa-biasa saja karena ga merasakan sakit apa-apa. Setelah itu, sang boksu mengeluarkan sekotak CDR dari tasnya. “Kamu mau minum ini?” Kukira aku mo dikasi sekotak ternyata dia melanjutkan kalimatnya, “Kamu ambil sebutir dan taruh di plastik ini. Terus itu nanti kau minum sesampai di kos.” …hehehe, hatiku seperti diiris sembilu gara-gara ga diberi sekotak CDR. Sebenarnya saat dia nawarin, hatiku sempat berbunga. “Ternyata sang boksu ini memerhatikanku juga.” Ternyata harapan tinggallah harapan … Sang boksu yang bersedia membelikan obat diare +madu untuk temanku dan dua botol obat untuk temanku satunya lagi tanpa perhitungan biaya, … hanya memberiku sebutir CDR.

Sesampai di kos, kupikir lagi …”Mengapa aku bisa cemburu berat seperti ini kepada kedua temanku? Apa artinya sekotak CDR … toh aku kan bisa beli sendiri. Sebenarnya bukan masalah sekotak CDR itu. Yang kubutuhkan adalah perhatian dari sang boksu … yang tidak kudapatkan.

Sore harinya, ada pelajaran menarik dari salah satu ayat yang menjadi bagian khotbah. Intinya dikatakan bahwa “di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat” (Yakobus 3:16) Karena rasa cemburuku atau iri hatiku, ada banyak kekacauan dalam hatiku. Semuanya itu berpusat karena aku terlalu mementingkan diri sendiri … aku belum bisa mengalahkan keinginan untuk diperhatikan oleh orang-orang di sekelilingku. Kecemburuanku ini menutup mataku atas segala kebaikan yang diberikan oleh teman-temanku.

Aku ingat pas hari pertama kacamataku pecah. Emang komentar mereka sih lucu-lucu …
“Wah, hari ini bisa ngerjain kamu nih …”
“Masih bisa liat ga … ini berapa?” (tanya seorang dari mereka sambil menunjukkan jari-jari tangannya)
“Kamu ga punya kacamata backup ya … pake punyaku gih. Kamu minus berapa? Kayaknya bisa dipakai deh karena minus kita ga jauh beda?”
… dan yang bikin haru perhatian dari staf finance,
“Aku ada kacamata lama yang minusnya keliatannya sama denganmu. Jika mau, ntar suruhan orang untuk ambil di rumahku.”
Kebetulan rumahnya ada di dekat kantor. Dia menyuruh seseorang untuk ambil kacamata dan ada 2 yang dibawa. Yang satu framenya masih bagus. Dia bilang jika aku bisa pake framenya itu. Jadi aku tinggal ngegantiin lensanya saja. Perhatian lain juga ku dapat dari bos yang menganjurkan untuk langsung ke optik di Mangga Dua. Katanya frame di ITC Mangga Dua cukup murah dan bisa langsung jadi dengan menunggu sekitar 1 jam. Wow … jika dihitung-hitung, aku mendapat berlimpah perhatian 🙂

Seringkali kecemburuan dan iri hati itu menutup mataku. Aku mengakui jika aku mengalami jatuh-bangun saat diproses di bagian ini. Namun minggu ini aku berkomitmen: Aku belajar untuk tidak cemburu dengan kelimpahan berkat yang diberikan Babe Agung kepada teman-temanku. Mengingat bahwa kecemburuan hanya akan menghabiskan energi dan pikiranku. Entah kenapa, setelah khotbah itu aku juga mendapat bacaan tentang iri hati yang hanya menyia-nyiakan waktu. Dan pagi ini diberi konfirmasi yang lebih tegas lagi: percaya saja kepada Allah dan jangan mengandalkan pikiranku sendiri. Aku bersyukur untuk setiap pelajaran yang kuterima dua hari ini. Sempat hampir menyerah karena aku selalu gagal mengatasi kecemburuanku yang tidak sehat ini. Namun, pagi ini ada semangat baru jika aku bisa bangkit lagi.

I’m very special in His eyes and He loves me the way I am … no need to be jealous with anybody 🙂

Jakarta, 30 April 2007

Advertisements

tabur tuai

Masih ingat kan tentang cerita kematian tanteku pada tanggal 31 Maret yang lalu?

Nah, Sabtu siang kemarin (21 April), aku menyempatkan diri untuk pergi ke Senen. Sambil menenteng 4 bungkusan bakso, aku berangkat ke Senen naik busway. Sempat deg-deg-an juga karena aroma baksonya masih tercium meskipun tas plastiknya sudah kurangkap. Aku takut jika aroma bakso mengganggu penumpang busway. Karena bus AC, jadi segala macam bau pasti langsung tercium. Itu alasan mengapa duren dilarang keras masuk busway. Karena ga semua orang bisa tahan dengan aroma duren. Ketakutan yang sama kualami saat membawa bakso itu ke dalam busway. Bersyukur ga ada yang protes meski baunya juga sempat tercium, tetapi langsung tertutup oleh aroma wewangian otomatis yang ada di busway.

Sesampainya di Senen dan makan siang bareng om Joko dan mbah kung, ada kesempatan untuk ngobrol dengan om Joko. Dia cerita jika pak RW menjadikan keluarganya sebagai teladan. Keluarga yang tidak pernah bertengkar dan ada rasa kekeluargaan yang kental dengan semua keluarga dan juga warga sekitar. Karena om dan bulikku yang bisa kubilang cukup ramah ini, ketua RW dan beberapa ketua RT pun “menuakan” mereka berdua meskipun usia mereka masih tergolong muda dibandingkan dengan para pengurus RW dan RT tersebut. Setiap kali ada masalah yang menyangkut urusan kampung atau apa pun, para pengurus tak segan datang ke rumah om Joko dan minta pendapatnya. Tak beda dengan bulik Joko. Tiap kali mendengar ada tetangga yang perlu dibantu –entah karena ada hajatan, atau kematian, atau sedang sakit–, bulik tidak berlambat-lambat untuk memberikan bantuan. Dan buah dari segala kebaikan itu terlihat saat kematiaan bulikku.

Banyak orang di lingkungan itu pun menyatakan keheranannya saat melayat di rumah om Joko. Dalam sejarah kampung Johar Baru, belum pernah ada layatan yang sebesar itu. Mungkin karena pengaruh individu yang besar, biasanya layatan di kampung itu sepi. Pelayat hanya datang melihat jasadnya terus pulang. Namun, hal yang berbeda terjadi saat di rumah omku. Para pelayat setelah melihat jasad tidak langsung pulang, tetapi mereka mencari tempat duduk di luar rumah. Kursi-kursi yang disediakan pun tidak cukup untuk mereka. Namun, mereka tetap bertahan sampai jenazah diberangkatkan di pemakaman. Semula om Joko hanya merencanakan untuk menyewa 2 metromini dan 2 mobil untuk keluarga … ternyata metro mininya full pelayat dan ada lebih dari 10 mobil pribadi dan keluarga yang ikut ke pemakaman di Bekasi. Para tetangga yang rumahnya di tepi jalan besar pun terheran-heran. “Seperti pelayatan seorang pejabat.” Hal itu karena mereka melihat sedemikian banyaknya pelayat yang membanjiri rumah om-ku.

Tidak hanya sampai di situ. Kata om-ku, biasanya jam 9 malam setelah pemakaman, rumah yang berduka itu pun sudah tutup pintu dan tidak ada tamu lain yang datang. Namun, hal itu beda sekali dengan kondisi rumah om-ku. Sampai jam 12 malam pun, masih banyak tetangga sekitar yang bergadang. Beberapa bapak menemani om-ku melalui malam itu. Sampai om-ku pun berpesan kepada bulik Marni dan aku untuk masakin nasi goreng bagi mereka yang sedang bergadang.

Acara tahlilan pun dimulai sejak hari Minggu malam sampai Kamis malam. Yang mengikuti pun selalu lebih dari 50 orang. Selesai tahlilan, para undangan pun masih suka ngobrol sampai tengah malam. Kata mereka sih … menemani om Joko untuk melewati malam.

Selain itu, sejak Senin pagi sampai Rabu pagi, masih banyak teman om Joko yang datang. Mereka adalah teman-temannya di kantornya yang lama dan juga di kantornya yang baru. Sempat aku bertanya, “Apa resepnya, om?” Om-ku sih cuma menjawab, “Ga ada yang istimewa. Aku dan bulikmu almarhum ga melakukan apa-apa. Cuma melakukan kelumrahan dengan tetangga sekitar dan juga dengan teman-teman di kantor.”

Di Jakarta yang terkenal dengan individualismenya yang kental ini, ternyata masih ada orang seperti om Joko dan bulikku almarhum. Setiap kita akan menuai dari setiap hal yang kita tabur. Pilihannya tergantung pada pribadi kita masing-masing. Apa yang hendak kita tabur bagi orang-orang di sekitar kita? Jadikan hidup kita yang singkat ini bisa bermanfaat bagi orang lain.

Jakarta, 23 April 2007

bakut

Sungguh menyenangkan ketika bercerita tentang makanan. Akhir-akhir ini, aku kenalan dengan beragam makanan baru. Mulai dari Steamboat, e-Mie, dan hari ini ada menu baru Bakut.

Sebelum cerita tentang Bakut, aku mo cerita tentang menu katering. Biasanya untuk lunch, makanan dipesan di salah satu tempat katering. Berhubung akan diadakan Bible Conference pada bulan Mei nanti, ada kesepakatan untuk mencoba masakan mamanya seorang staf. Apabila lidah kami cocok, masakan itu akan dijadikan menu dinner pada saat konferensi. Karena konferensinya dilakukan selama 2 hari, maka diadakan 2 kali percobaan 🙂

Menu pertama sudah diujicobakan seminggu yang lalu. Lidah yang biasa makan masakan katering serasa dimanja saat menikmati masakan mama (tapi sayang bukan ibuku 😦 ) Ayam goreng mentega, mie goreng, dan capcay pun langsung disantap bersama. Menu yang sederhana ini terasa uenak sekali. Nah, hari ini adalah uji coba menu kedua. Berdasarkan permintaan, mama kali ini memasakkan bihun goreng, sambal goreng kentang dan ampela, plus telur balado. Setelah ketiga makanan tersebut tersaji, pimpinanku pun keluar dari ruangannya. Dia pun bilang, “Saya lupa jika menu kali ini dimasakkin mama. Saya sudah terlanjur bibi saya untuk masakin Bakut …”

Pada dasarnya para staf hobi makan … dan aku pun mulai tertular meski baru dalam prosentasi kecil 🙂 …. Begitu mendengar kata Bakut, beberapa staf sudah berteriak kegirangan. “Gapapa, Ci. Jika makanan, kami ga nolak kok … :)”

Bakut … emang sejenis makanan dari daging babi setauku tapi aku belum tau bentuknya. Saat makan siang pun tiba. Sepanci bakut buatan bibinya ci Netty pun tersaji. Ternyata … masakan bakut itu sering kumakan saat di Solo tapi istilahnya bukan bakut. Makanan itu sejenis sup iga babi yang dimasak dengan sayur asin. Saat menyantap bakut, malah jadi ingat dengan keluarga di Solo. Bakutku sayang … semula kukira jenis makanan baru yang akan kunikmati, ternyata itu makanan favorit keluarga kakakku …

Jakarta, 20 April 2007

e-Mie . . . oh, e-Mie

Hari ini ada staf Print-Hub yang berulangtaun. Sejak seminggu lalu dia sudah promosi e-Mie. Sempat kepikiran juga … apaan tuh? Dia mah cuma nanyain: “Pernah tau e-Mie? Suka makan e-Mie?” Begitu menyebutkan kalimat kedua, barulah aku tau jika e-Mie itu sejenis makanan. Waktu kutanya balik, dia hanya menjawab, “Ntar, aja deh … aku mo bikin kalian ngiler dulu dengan makanan itu.” Tambah penasaran dengan jawaban itu. Setelah nanya sana-sini, akhirnya aku yang awam dengan masakan mie ini pun tau jika e-Mie itu masakan mie yang dimasak pake ebi.

Gubraakk…ebi?? Itu salah satu bumbu masakan yang paling tidak kusuka, baik aromanya ataupun rasanya. Kayaknya sudah bawaan karena ibuku di Solo juga ga suka ebi. Beliau tidak pernah memasak pake ebi. “Lebih enak pake udang segar,” jelas beliau.

Nah, kembali ke e-Mie tadi. Temenku itu ternyata menepati janjinya. Hari ini (18 April 2007) dia berulangtaun ke-30. Untuk makan siang staf, maminya akan memasakkan e-Mie. Karena itu, dia mengajukan cuti setengah hari. Alasannya sederhana sih. Supaya maminya bisa masak dengan leluasa, dia harus ngejagain keponakannya yang masih bayi. Umurnya sekitar 5-6 bulanan. Biasanya sih maminya yang ngurusin si bayi.

Jam sudah menunjukkan angka 11.55 … tapi kok dia belum nongol-nongol juga ya. Cacing-cacing di perut sudah mulai protes. Sebenarnya bukan dia yang ditunggu tetapi e-Mie-nya 🙂
Akhirnya jam 12.00 tepat dia pun muncul … eh, tapi belum bisa makan karena makanannya belum nyampe karena mobil yang membawanya datang belakangan. Tak lama, bahan-bahan makanan e-Mie pun tersaji di meja makan.

Rangkaian e-Mie ini terdiri dari mie besar yang mirip spageti bentuknya, taoge rebus, kentang mini rebus, bakwan goreng, telur rebus, pangsit, bawang goreng, sambal hijau, dan irisan jeruk nipis, serta tidak ketinggalan kuah kental beraroma ebi yang menyengat.

Setelah semua tertata di meja makan, lagu ulangtaun pun dinyanyikan. Lagu ini sekarang menjadi lagu favoritku karena cukup bagus liriknya …
Selamat ulang tahun, aku ucapkan padamu
Selamat hari jadi, Tuhan Yesus memberkati
Aku slalu berdoa agar kau tetap setia
Pada Yesus, Tuhan dan Raja kita
Aku mengucap syukur, Tuhan tlah pimpin langkahmu
Padamu Amin (nama yang ulang taun), selamat ulang tahun!
Setelah itu ada doa makan dan akhirnya acara makan pun dimulai.

Setiap staf menata rangkaian e-Mie tadi di piring masing-masing. Giliranku pun tiba. Paling ga tahan saat menambahkan kuah. Banyak yang bilang jika kekhasan e-Mie ada di kuahnya. Jadi harus banyak kuah supaya “banjir” kuah di piring. Tapi aku cuma minta sesendok sayur untuk kuah … itu cukup karena aku sudah ngeri membayangkan rasanya.

Ternyata tidak seburuk yang kubayangkan. Rasa ebinya tidak terlalu menyengat tapi aku tetap ga mau nambah kuah lagi … cukup sudah sesendok sayur untuk kuah.

Semuanya acung jempol untuk e-Mie ala Medan itu. “Thanks Amin … kapan-kapan masakin lagi ya,” ucap mereka.

Kegembiraan tidak terhenti di situ. Selesai makan ada sharing meja makan … khususnya menodong Amin yang sedang berulang taun. Dia mengucap syukur karena dipercaya untuk memiliki hidup sampai sekarang dan itu adalah anugerah Allah semata. Staf lain yang sharing juga mengatakan bahwa ada banyak kemajuan dalam dirinya. Semula hanya volunter, sekarang telah menjadi staf Print-Hub yang mengurusi labeling. Dulu dia masih tergagap-gagap saat ngomong, sekarang sudah lancar banget dan lafal “r”-nya sudah makin jelas 🙂
Satu hal yang tidak berubah … Amin tetap setia, rajin, rendah hati, dan ga pernah marah … senyuman selalu tersungging di bibirnya. Wah … perlu dicontoh nih 🙂

Btw, happy b’day dear Amin … it’s nice to know you … I can learn a lot …

Jakarta, April 18, 2007

cuma 10 menit? … lumayanlah

Kepergian tanteku ini telah mengumpulkan seluruh keluarga yang ada di Jakarta, Bekasi, Bogor, Solo, dan Klaten, serta masih banyak lagi. Sebagian besar wajah mereka sudah tidak aku kenali lagi, tetapi mereka masih mengenaliku.

Dengan modal senyum saja, aku memberi salam kepada mereka yang sebagian besar mengenalku saat masih kuecil dan aku dikenal karena ibuku. “Ini anaknya mbak Ni yang pertama…” kata salah seorang dari mereka. “Dulu dia masih kecil saat kulihat …” sahut seorang di antara mereka. Ternyata banyak juga keluarga ku yang ada di wilayah sekitar Jakarta. Namun karena aku sudah termasuk generasi ke-4 dari nenek buyutku … maklum saja jika saya sudah tidak mengenali generasi ke-3 dan juga sesama generasi ke-4. Sungguh rumit untuk menghafal nama mereka, tetapi menyenangkan juga bertemu dengan mereka.

Yang paling menyenangkan ketika rombongan dari Solo tiba. Di antara lima pria yang datang pas Sabtu malam itu, ada babeku yang ikutan datang. “Wah, aku bisa ketemu anakku lagi di sini,” saat dia melihatku di rumah om dan sambil mengusap kepalaku. Jadi terharu deh … rasa kangen dengan keluarga sedikit terobati. Khususnya saat mendengar rencana jika ibuku dan beberapa tanteku dari Solo akan datang juga ke Jakarta hari Kamis nanti. Betapa indahnya hari-hariku saat keluarga Solo ada yang datang berkunjung ke Jakarta.

Hari Minggu pun tiba. Ternyata babe pengin melihat kamar kosku sekalian mencoba bagaimana rasanya naik busway. Jam 07.30, aku dan babe sudah meninggalkan rumah om Joko. Om sudah wanti-wanti bahwa kami harus sudah tiba kembali di rumahnya jam 11.00. Alasannya karena mobil yang akan membawa rombongan ke Bekasi sudah dipesan untuk datang pada jam itu. Aku pun berangkat dengan sedikit kekhawatiran dalam hati. Apakah waktu 3 jam akan cukup untuk perjalanan pulang-pergi dari Senen ke Cengkareng. Babeku dengan santainya bilang, “Cukuplah …kan ada waktu 3 jam.” Wah … babe belum tau bagaimana perhitungan waktu di Jakarta. Jika ga ada macet atau antrian yang puanjang di halte busway, waktu 3 jam memang lumayan banyak.

Namun, tetap berangkat juga. Mengucap syukur karena antrian di halte busway tidak terlalu panjang. Sebelumnya sudah kubilang ke babe untuk siap-siap berdiri di busway. Beliau emang sempat berdiri tetapi kemudian ada kursi kosong. Aku mah tetap berdiri karena sudah terlatih 😀

Sampai di kos jam 09.20. Cuma 10 menit melihat kamar plus ke lantai 2. Sempat ketemu 2 orang teman kos tetapi ga sempat istirahat di kamar. Jam 09.30, kami sudah melangkahkan kaki meninggalkan tempat kosku. Untungnya perjalanan pulang ke Senen lebih cepat. Tapi om Joko sudah khawatir. Dia sudah berulang kali telpon sudah sampai di manakah kami. Jam 10.40 kami berdua sudah tiba di rumah Senen. Dan rombongan Solo pun siap berangkat ke Bekasi.

Meski sudah segedhe ini, kunjungan babe yang cuma 10 menit itu bener-bener membuatku senang. Beliau bisa melihat kondisi kosku …mungkin juga untuk menghilangkan kekhawatirannya karena baru kali ini aku tinggal jauh dari ortu. Thanks, my dearest babe. Kapan berkunjung lagi? 🙂

Jakarta, 31 Maret 2007

hari pertama bertemu

Rencana yang mo pulang ke Solo tanggal 5-7 April sudah dibatalkan karena peristiwa berpulangnya tanteku. Semula sempat kecewa, tapi segera terobati ketika babe dan rombongan om-ku datang dari Solo. Tambah sukacita lagi saat ibuku dan rombongan tanteku pun menyusul.

Rombongan berangkat hari Kamis (5 April 2007) jam 15.00 dengan menyewa mobil sejenis L-300. Mobil itu pun muat 9 orang dewasa dan 2 anak-anak. Diperkirakan rombongan ini akan tiba di Jakarta sekitar tengah malam. Namun untung tidak dapat diraih … jam 23.30 hp om Joko berdering dan rombongan Solo memberitakan jika mobilnya macet di Subang. Gara-gara om Heri yang menyetir mobil melindas lubang di jalan, rem mobil mengalami kerusakan dan menyebabkan bocornya oli. Om Heri mencoba mengotak-atik rem, tetapi tidak berhasil. Dengan upaya terakhir, mobil pun bisa dijalankan dengan mengandalkan rem tangan dan berhasil mencapai pom bensin terdekat di Subang.

Bersyukur ada montir yang bisa dipanggil untuk melihat kerusakan mobil. Ternyata ada bagian yang perlu dibeli di bengkel … terpaksa rombongan bermalam di penginapan pom bensin tersebut. Om Joko, bulik Marni, mbah kung, dan aku yang nungguin kedatangan mereka merasa lega…setidaknya mereka bisa beristirahat dengan nyaman malam ini.

Pagi menjelang dan setelah diperbaiki, mobil pun bisa melaju kembali. Aku dan bulik Marni sejak pagi sudah sibuk nyiapin sarapan. Rencananya mo bikin sayur gudeg dan sambal goreng krecek. Tapi karena bulik Marni adalah orang Sunda asli, dia ga tau bumbunya. Aku berulang kali kontak ibuku, tapi ga ada jawaban dari hp-nya. Dengan terpaksa, kami berdua pun memasak gudeg ala Sunda 🙂 Jika begini ini baru terasa pentingnya belajar masak. Ibuku di Solo jago masak tapi bakatnya ga menurun ama anaknya. Eh, salah ding … anaknya yang tidak mau berguru 🙂 Aku sih cuma bisa mbantuin belanja dan nyiapin bahan-bahan yang mo dimasak. Giliran bikin bumbu, aku sama sekali buta. Semuanya ditangani oleh ibuku yang membuat setiap hasil masakannya terasa nikmat.

Eh, sedang sibuk masak gudeg, ternyata rombongan Solo sudah nongol di Senen. Sekitar jam 08.30 mereka tiba di rumah om-ku. Begitu datang, kamar mandi menjadi tujuan utama mereka. Berhubung kamar mandi ada di wilayah dapur, ruangan dapur yang semula lengang karena cuma berisi aku dan bulik Marni … tiba-tiba menjadi penuh sesak.

Menyenangkan saat melihat mereka. Banyak makanan khas Solo yang dibawa. Keripik paru, keripik cakar, brem putih, ayam goreng tepung panir, bandeng duri lunak, dan intip goreng, serta beberapa jenis makanan kecil lainnya. Aku dan bulik Marni terasa kenyang saat melihat makanan dan lauk pauk yang melimpah ruah itu …

Akhirnya masakan gudeg dan sambal goreng krecek pun matanglah. Setelah tersaji, sarapan yang merangkap makan siang pun dilakukan. Uenak banget saat makan bareng-bareng dan mendengar cerita-cerita lucu dari rombongan Solo. Ternyata penginapan pom bensin yang mereka maksud adalah pelataran pom bensin dan bukan penginapan beneran. Tentu mereka tidak bisa tidur karena banyak nyamuk yang menyerbu badan mereka. Kisah-kisah mereka lucu saat menceritakan tentang pengusiran nyamuk-nyamuk yang menghilang saat subuh menjelang. Selesai acara makan dan mandi, rombongan Solo yang tidak sempat beristirahat semalam mulai membaringkan badan di ruangan … mereka kecapekan setelah bergadang semalaman.

Semula mo berangkat ke Bekasi jam 13.00 untuk melihat makam. Saat melihat rombongan masih terlelap karena kecapekan, om Joko pun tidak tega. Keberangkatan diundur menjadi jam 15.30 dan serombongan besar pun berangkat ke Bekasi.

Sepulang dari makam, rombongan mampir ke rumah Tri, anak kedua dari om Joko. Satu-satunya anak cewek dan sudah menikah. Candaan di rumah Tri pun mulai bergema. Tak terasa waktu pun berlalu. Jam 20.00 kami meninggalkan rumah Tri dan pulang menuju ke Senen.

Akhirnya selesai perjalanan di hari pertama dan membersihkan diri, kami semua bisa mengistirahatkan diri malam itu. Menyenangkan bagiku saat berjumpa dengan ibuku dan Dinar, adikku yang paling bungsu. Sehari telah berlalu … rasanya tidak rela karena ingin berlama-lama dengan mereka. Hari pertama pun usai sudah …

Jakarta, 6 April 2007

perang makanan ~ steamboat

Berawal dari foto nasi padang yang ditampilkan di mailbox kantor, “perang makanan” pun dimulai. Sebenarnya foto itu diambil untuk menunjukkan kenikmatan makan siang ala nasi padang kepada beberapa staf (aku salah satunya) yang kebetulan mendapat tugas luar pada hari Kamis itu (22 Maret 2007). Padahal, kami pun juga makan di resto Kam Seng yang terkenal dengan kelezatan kwetiau goreng telur-nya 🙂

E-mail nasi padang itupun terkirim ke staf A yang kebetulan ditugaskan di Singapura. Tidak hanya nasi padang karena ada seorang staf yang mbeliin es krim untuk semua temen di kantor. Foto makan es krim pun terposting di mailbox kantor.

Tak mau kalah, staf A pun cerita jika dia diundang makan ke rumah bos lengkap dengan spaghetti, steamboat, dan es krim juga. Foto makanannya pun dikirimkan. Alih-alih bikin senewen para staf di Jakarta, kata ‘steamboat’ malah mencetuskan ide cemerlang.

Staf di Jakarta sepakat mo pesta steamboat yang bertepatan dengan hari terakhir masuk kerja sebelum long weekend (5 April 2007). Staf Y yang ditunjuk (secara paksa) untuk menjadi koordinator steamboat mulai berperan. Dia ngumpulin data siapa yang punya alat pemasak steamboat, siapa yang mo urunan bahan makanan, dan berapa duit iuran yang perlu dikumpulkan. Semuanya lengkap sudah di hari Kamis pagi itu. Sayuran tersedia (sawi hijau, sawi putih, & kangkung), tofu, rumput laut, bakso, file daging sapi impor, dua jenis makanan Jepang yang sudah kulupakan namanya, pangsit, telur puyuh, udang, dan kuah tulang ayam pun sudah tersedia termasuk 4 pemasak steamboat.

Omong-omong tentang steamboat, terus terang baru kali ini aku menikmatinya. Dulunya cuma liat orang makan steamboat di tivi. Sedikitnya tau lah gimana bentuk steamboat itu. Gampangnya sih bahan-bahan makanan yang kusebutkan tadi dimasukkan ke dalam kuah panas yang tersedia dalam pemasak steamboat. Ada yang menyebut pemasak steamboat itu hot pot karena panci pemasak yang tersedia di meja makan itu selalu panas.

Setelah bahan-bahan makanan dimasukkan, barulah kita berpesta steamboat. Aku mah menyebutnya makan sop saja karena mirip banget cuma agak ribet dalam nyiapinnya. Setidaknya kami makan lezat saat itu karena berlimpah daging dan nasi pun tidak ada yang melirik 😉

Terus terang baru kali ini aku menikmati steamboat. Biasanya cuma liat di tv doang. Yang menambah enak adalah kebersamaan dalam nyiapin dan menyantap makanan yang tersedia di meja.

Karena porsi nasi yang masuk ke perut cuma sedikit, tidak heran jam 3 siang perut sudah nagih minta diisi. Untungnya ada nasi yang tadi siang tidak disentuh. Oleh sentuhan tangan staf finance yang kebetulan pintar masak, nasi goreng pun tersaji di meja makan. Ditambah dinginnya udara, nasi goreng panas itu pun langsung habis disantap.

Cerita tentang steamboat dan nasi goreng pun dikirim ke staf Indonesia yang saat ini diutus ke Singapura. Jangan dipikir perang makanan berhenti sampai di sini. Perang itu masih berlanjut sampai sekarang dan ide yang dilontarkan dari staf A yang di Singapura makin memicu kami untuk menyediakan jenis masakan yang sama. Sudah terpikir untuk membuat barbeque … entah kapan ide itu terealisasi. Ada untungnya juga perang makanan ini … perut-perut kami bener-bener dimanjakan.

Jakarta, 5 April 2007