Archive | March 2007

who is my fairy god-father?

Bagi penggemar dongeng Cinderela, pasti tidak pernah lupa dengan tokoh fairy god mother. Sang ibu peri yang menjadi pelindung dan penjaga Cinderela ini selalu mengetahui dan menyediakan apa yang dibutuhkan Cinderela. Dan putri kesayangannya itu pun dapat hidup bahagia selamanya.

Aku pikir fairy-god mother hanya ada dalam dongeng. Ternyata dalam kisah nyata pun, aku bisa melihatnya. Namun bukan fairy god mother … aku menyebutnya fairy god father …
Seandainya aku tidak tinggal dekat dengan 2 orang temanku dan bekerja seruangan dengan mereka, mungkin aku tidak terlalu “cemburu” dengan keberuntungan yang mereka miliki.

Katakanlah temanku si A. Dia mengenal fairy god father-nya sejak zaman kuliah dan ketika melayani di sebuah gereja. Jika ada acara gereja atau kampus, dia dijemput ama babe peri-nya. Saat dia sakit, babe peri-nya nengokin, mbawain makanan, dan maksa dia ke dokter. Bahkan sekarang, untuk renovasi rumah KPR yang dibelinya, babe peri menjadi sponsor utamanya. How lucky she is …

Sementara itu, ada lagi temanku si B. Selain seruangan di kantor, dia pun tinggalnya se-kos-an denganku … beda kamar tentunya. Dia mah lebih beruntung lagi. Tidak hanya satu, dia bahkan punya dua babe peri. Babe peri yang pertamanya adalah gembalanya yang kebetulan tinggal di Jakarta. Sebenarnya tinggal si B bilang apa saja yang diinginkan, babe peri pertama ini pun pasti menyediakan. Karena si B merasa tidak enak, akhirnya babe peri pun yang bertindak. Mulai dari handphone sampai notebook pun sudah diberikan. Wow …

Sedangkan babe peri kedua dari si B ada di kantor. Kebetulan babe peri ini juga menjadi pelindung dari si A. Bayangin nih … di ruangan kerjaku ada 4 orang: si A, si B, aku, dan juga babe peri si B yang kedua. Nah, babe peri ini “hanya” memberikan perhatian kepada si A dan si B. Trus aku gimana ya? …

Kembali ke cerita tentang babe peri kedua. Hari ini si B tidak masuk kantor karena diare. Memang sudah beberapa hari ini dia terkena “masuk angin”. Kepalanya sempat pusing … karena itu dia beli sate kambing. Dia pikir tekanan darahnya drop tapi keesokan harinya dia malah merasa bertambah tidak karuan. Rasa mual yang dialaminya tambah menjadi. Dia nekat ke kantor tapi ga doyan makan pas siang harinya. Karena pengin berkeringat, sepulang kantor dia makan bakso pedas. Ternyata hasilnya makin parah. Pagi tadi dia terkena diare … aku juga bingung karena dia ga mau makan obat atau pun diajak ke dokter.

Hari ini setelah makan siang, aku berencana pulang ke kos untuk nengok dia. Ternyata babe peri kedua ingin ikut nengok juga. Dalam perjalanan, babe peri minta mampir ke toko obat untuk membeli obat diare dan madu. Akhirnya, kami sampai di kos. Si B belum makan tapi babe peri maksa dia untuk makan beberapa biskuit. Setelah itu babe peri memaksanya minum obat. Karena ditungguin babe peri, B ga bisa berkelit lagi. Dia minum obat diare-nya plus madu dan segelas air hangat. Aku acung dua jempol untuk babe peri. Aku senang karena dia bisa maksa B untuk minum obat. Setelah itu babe peri juga mendoakan kesembuhannya.

Dalam perjalanan pulang, babe peri mampir ke supermarket. Dia mo mbeliin es cendol untuk semua staf kantor. Sembari nunggu cendolnya dibungkusin, babe peri mengajakku masuk ke supermarket dan menuju ke counter buah. Dia nanya ke aku: apel mana yang enak dan bagus untuk si B? Aku sih bilang terserah saja dan akhirnya dia beli apel termahal. Trus dia nanya ke aku juga sih: kamu butuh apa? Jika butuh, sekalian beli saja. Aku cuma bilang: ga ada yang perlu dibeli. … karena bukan materi darinya yang kurindukan, aku merindukan perhatiannya sebagai babe peri kepadaku.

Sepanjang perjalanan menuju kantor dengan babe peri, aku terus berpikir … kapan aku bisa punya my own fairy god father … seorang babe peri bagiku. Seandainya aku tinggal jauh terpisah dari A dan B … aku masih kuat menahan perasaanku. Namun, karena setiap hari melihat dan mendengar kisah-kisah mereka … sempat juga air mataku menetes.

Kadang perasaan itu membuatku berpikir: apakah aku terlalu jelek untuk disayang? Apakah aku tidak layak untuk dikasihi? Apakah karena aku terlalu buruk sikap dan perbuatanku sampai aku ga ada yang merhatiin? Apa sih yang menghambatku sampai rasanya seolah-olah berkat bagiku terhambat? Keduanya tidak perlu keluar tenaga atau air mata ketika menginginkan sesuatu yang kebetulan saat ini kuinginkan.

Kelihatan sangat menyenangkan ketika memiliki seorang fairy god father. Meski salah seorang diantara mereka pernah share dan mengatakan, “Rasanya ga enak karena merasa sungkan. Sepertinya hidupku harus menurut aturannya babe peri. Aku kan punya kehidupan sendiri. …” Tapi meski ada keluhan seperti itu, tetap saja mereka menikmati semua kemudahan yang saat ini sudah ada di genggaman tangan mereka berkat babe peri mereka masing-masing.

Pelajaran yang keras ini mengajarku untuk kembali mengingat semua berkat dan kebaikan yang kuterima sampai hari ini. Meski tidak kuperoleh dari seorang fairy god father tapi berkat-berkat itu menjadi bukti nyata bahwa ada seseorang yang memerhatikan diriku dan mengasihiku serta menerimaku apa adanya. Air mata dan rasa “cemburuku” itu mengajariku untuk senantiasa mendekat kepada sang pemberi berkat dan terus belajar mengucap syukur atas setiap hal yang kumiliki dan kualami. Memang teorinya mudah … prakteknya tidak semudah itu. Perlu niat yang kuat karena aku termasuk orang melankolis … tapi jika berusaha, tidak ada yang susah. Betul kan? Nah siapa yang mo jadi my fairy god father? Lho …. 🙂

Jakarta, 23 Maret 2007

kota angkot

Tak terasa waktu bergulir secara teratur dan bulan ke-7 pun akan segera kulalui di tanah perantauan ini. Sebenarnya ga sendirian banget sih di Jakarta. Masih ada keluarga dari ibu yang tinggal di Jakarta Pusat dan di Bogor. Nah, aku mah bisa dikatakan beberapa kali maen ke rumah om yang ada di Jakarta Pusat. Namun, hal itu menimbulkan “kecemburuan” dari keluarga om-ku yang tinggal di Bogor. Dia sempat complain ke ibu dan bilang jika aku ga pernah telpon dia atau maen ke Bogor.

Lha gimana lagi … jangankan ke Bogor, ke Jakarta Pusat pun aku juga jarang-jarang nongol. Bersyukurnya pas minggu kemarin, ada weekend yang lumayan panjang karena ketambahan libur di hari Senin. Aku beranikan diri untuk berangkat ke Bogor dan meluangkan waktu bersama keluarga om yang ada di sana.

Tentunya aku ga berangkat sendiri. Ngebayangin ke Bogor sendirian pun jangan sampai karena aku belum pernah menginjakkan kaki di Bogor…eh, salah ding. Ini kali kedua aku ke Bogor. Kali pertamanya adalah 10 tahun yang lalu saat om-ku menikah. Berarti tetep saja aku buta Bogor dan belum berani ke sana sendirian. Akhirnya om yang di Bogor menjemputku di rumah om-ku yang di Jakarta Pusat.

Alhasil, karena baru berangkat jam 21.00 dari Senen, kami tiba di rumah Bogor jam 24.00. Ke-empat anaknya yang berniat nungguin aku, sudah ketiduran semua. Aku pun ikutan tidur karena badan ini capeknya luar biasa.

Paginya, baru aku diajak jalan-jalan ama sepupuku. Mungkin yang tinggal di Bogor atau sudah biasa ke Bogor, pasti sudah ga aneh lagi. Namun, bagi saya tetap aneh karena di sepanjang jalur jalan raya utama, angkot-angkot berjalan beriringan. Tujuannya memang 1 sih … mencari penumpang, tetapi banyak angkot yang kosong daripada yang penuh penumpang. Kata sepupuku itu belum seberapa. Jika pas jam sibuk, antara jam 6-8 pagi, angkot-angkot itu pun memenuhi jalan dan menyebabkan kemacetan.

Tidak ada kopaja, tidak ada metromini, tidak ada bus kota, . . . . yang ada hanya angkot yang berjibun banyaknya. Seakan jumlah angkot lebih banyak dari jumlah penumpang yang diangkut. Mayoritas angkot berwarna biru tua kehijauan dan hijau murni hanya nomor-nomornya saja yang membedakan ke mana angkot-angkot itu akan mengangkut Anda. Perlu jeli juga karena banyak angkot yang warnanya sama tetapi nomornya berbeda-beda.

Sepupuku bilang lagi, selain terkenal dengan julukan Kota Hujan, Bogor emang terkenal juga dengan sebutan Kota Angkot. Pengalaman selama 3 hari 3 malam di Bogor telah membuktikan kedua julukan itu. Hal itu juga membuatku berani untuk ngelayap ke Bogor sendiri. Maksudnya tanpa harus dijemput om dulu. Modalnya sih cuma ingat nomor angkot dan nama tempat dimana aku harus ganti angkot.

Ga ada angkot yang sekali jadi di kota yang didominasi oleh IPB (Institut Pertanian Bogor) ini. Karena rumah om di daerah Cibanteng, mayoritas aktivitas di wilayah itu terpusat di wilayah kampus IPB. Kampus adalah jawaban ketika dari mulutku muncul pertanyaan: di mana ATM? Di mana warung bacaan terdekat? Tempat bakso yang enak di mana? Dan masih banyak lagi dengan jawaban yang sama: Kampus 🙂

Pengalaman itu juga yang membuatku bisa berkeliling Bogor dengan naik angkot 🙂 Itu hal yang murah dan ga tergantung ama orang lain untuk nganter. Lain kali … jika ada libur panjang lagi, aku pengin kembali ke Kota Angkot ini … kota yang masih penuh dengan pepohonan ketika mata melayangkan pandang ke berbagai tujuan. Pemandangan gunung Salak pun membingkai keindahan kota yang masih didominasi hijau pepohonan sejauh mata memandang. Sungguh suatu pesona yang terekam di ingatan dan menarikku kuat untuk segera datang kembali ke kota ini.

Jakarta, 20 Maret 2007 (di Bogornya: 16 Maret malem – 20 Maret dini hari)

it’s my place

Temanku sharing tentang teman sekerjanya di kantor yang lama. Temannya itu sudah beberapa kali pindah tempat kerja juga dan saat ini dia menjadi seorang reporter di sebuah penerbitan Kristen. Dia mengatakan bahwa dia benar-benar mantap dengan tempat kerjanya yang sekarang. Dia yakin bahwa memang Allah sudah menuntunnya untuk sampai di tempat kerjanya yang baru ini. Wah, sungguh bahagia sekali saat seseorang bisa mengatakan: “Di sini lah tempatku. Aku merasa nyaman bekerja di sini karena aku yakin bahwa Allah yang menempatkan aku di tempat ini.” Bahkan sekarang dia sudah menulis sebuah buku yang sudah lama dia impikan.

Kapan aku bisa mengatakan hal yang sama: “Inilah tempatku. Aku yakin bahwa Allah sudah menempatkan aku di sini. Aku bisa memberikan segenap talenta yang kupunya untuk melayani Dia di tempat ini.”

Dulu, sebelum ke Jakarta, aku sudah merasa yakin bahwa bekerja di kantorku yang lama merupakan panggilan Allah bagiku. Aku begitu menggebu untuk mencari cara supaya pelayanan melalui media internet juga bisa dipakai sebagai sarana untuk memberitakan Kabar Baik. Selama enam tahun lebih aku melayani di sana. Tetap tegar dengan keyakinanku meskipun banyak orang yang mulai bertanya-tanya bagaimana aku bisa betah bekerja di kantor itu. Bahkan orangtuaku juga beberapa kali sempat menanyakan kapan aku mencari pekerjaan baru. Saat itu dengan yakin aku menjawab bahwa itulah tempatku. Aku merasa nyaman di situ dalam arti aku bisa bekerja sekaligus melayani. Pekerjaan di situ pun sesuai dengan latar belakang pendidikanku. Akhirnya aku ambil keputusan untuk kuliah lagi yang kupikir bisa membekaliku untuk menggunakan internet sebagai media PI.

Waktu pun berlalu. Aku mulai mendapat tugas baru yang tampaknya mulai mengikis keyakinanku untuk berkecimpung dalam PI via internet. Tugas baru menuntut tanggung jawab baru dan berulang kali aku gagal dalam menjalankannya. Sempat tegar selama dua tahun untuk tetap meneruskan langkah dan berusaha memberikan yang terbaik. Namun fakta memberikan jawaban lain. Dua bulan yang lalu, aku harus meninggalkan kantor yang selama ini selalu kuanggap sebagai rumah keduaku ini. Aku juga harus melangkahkan kaki dari rumah orangtuaku dan menginjakkan kaki di kota baru yang jaraknya memakan waktu 12 jam jika naik kereta

Sekarang aku bekerja di tempat yang baru. Ada teman baru, lingkungan baru, situasi baru, rumah baru, dan semuanya serba baru. Aku benar-benar mulai dari awal lagi. Apakah di kantorku yang baru ini aku bisa mengatakan dengan yakin: “Di sinilah tempatku.” Terbersit ketakutan jika peristiwa 7 bulan yang lalu terulang kembali di tempat ini.” Masih terus mencari jawaban akan suatu kepastian, “Apakah ini tempat yang ditetapkan Allah bagiku?”

perpisahan

Pagi ini aku menerima sms dari sahabatku. Pesannya cuma singkat: “Ada telepon dari rumahku jika anjingku sudah dibawa orang.” Aku tau jika peristiwa kehilangan ini membuatnya bersedih karena kehilangan hewan peliharaan yang sudah hidup bersama selama kira-kira 10 tahun. Tapi aku juga bingung mo gimana supaya bisa menguatkannya dan juga ibunya yang pasti yang sedang bergumul juga dengan perpisahan ini … walau hanya dengan seekor anjing.

Peristiwa ini mengingatkanku tentang kejadian bertahun-tahun yang lalu ketika aku juga kehilangan kucing kebanggaanku. Kucing itu ku dapat dari seorang teman. Waktu itu, temanku pagi-pagi menelepon ke rumah. Dia nanya apakah aku mau memelihara kucing. Ada tiga ekor anak kucing yang ada di rumahnya. Adiknya ga suka dan berniat mo membuang ketiga ekor kucing kecil itu. Aku yang ga biasa punya peliharaan tanya dulu ke ortu untuk meminta persetujuan. Setelah mereka oke, kutelepon balik temanku. Aku bersedia merawatnya tapi cuma seekor saja dan yang jantan. Ibuku ga mau yang betina karena takutnya akan beranak melulu 🙂

Pagi itu juga temanku datang. Kucing kecil itu dibungkus selimut hangat dan dibawa ke rumahku. Sejak saat itu, aku punya mainan baru. Inying adalah nama yang diberikan untuk kucing itu. Seiring berjalannya waktu, kucing itu makin besar dan menjadi kesayangan kami sekeluarga terutama aku. Paling ribut jika kehabisan ikan yang menjadi makanan kesukaannya. Jadi pagi-pagi sudah dibela-belain ke pasar untuk beli ikan. Si Inying ga suka ikan goreng … dia lebih suka ikan kukus. Jadi jelas tambahlah pekerjaanku untuk mengurusi makanannya tapi tetap saja dia menjadi kucing kesayanganku.

Masalah muncul saat dia mulai suka main ke luar rumah. Sebagai kucing jantan yang bisa dibilang lumayan “ganteng” di dunia kucing 🙂  Ga heran jika dia suka tebar pesona ke banyak kucing betina. Itu membuatnya sering ke luar rumah. Nah, yang bikin aku jengkel, Inying suka pergi lebih dari 2 hari dan baru pulang ke rumah. Sesekali ga masalah sih karena mungkin dia mulai sibuk dengan “pacarnya”. Namun, lama-lama dia jadi sering pergi. Tiap kali pulang ke rumah, badannya bau dan bulu putihnya jadi kusam. Padahal makin gede, makin susah dimandiin dia … cakarannya tambah ganas 🙂

Dan hari yang paling kutakuti terjadi … si Inying pergi dan tidak pernah kembali 😦 Entah bagaimana nasibnya sejak itu … aku ga berani memikirkannya. Pikiran jelek yang kebayang sih … mungkin dia tertabrak mobil lah, sakitlah karena keracunan makanan, dsb. Yang jelas, aku hampir tiap malam nangis saat mengingat dia. Kesannya cengeng banget ya … cuma gara-gara kucing, aku bisa nangis tiap malam tapi ga lama kok …. paling hanya sebulan dan pas jika inget dia saat liat fotonya

Abisnya gimana lagi? Aku yg nyariin makan, aku yg mbuatin makannya, aku yg sering ngajak maen dia … trus tiba-tiba ga ada lagi … Saat kupanggil namanya, tak terdengar lagi meongnya yg manja. Saat aku pulang dari bepergian, ga ada lagi yang “nggulet” kakiku dengan bulu-bulu lembutnya …

Setelah kehilangan itu, aku jadi ga suka kucing sampai sekarang … malah cenderung anti 😦 Masalahnya tiap kali ketemu kucing, yang kebayang malah si Inying. Untungnya sedikit demi sedikit sudah bisa melupakan dia. Sudah ga ada lagi acara tangis-tangisan tiap malam … tapi tetep ga mau lagi melihara kucing. Takut jika sakit hati lagi …

sesuatu yang istimewa

Saat masih tinggal di Solo, pulang ke rumah adalah hal yang biasa. Namun, setelah hampir 7 bulan pindah kerja di Jakarta, pulang ke rumah adalah hal yang sangat istimewa. Sesuatu bisa terasa sangat istimewa ketika kita telah “kehilangan” sesuatu tersebut.

Dulu bertemu dengan ortu atau adik saat pulang dari kantor adalah rutinitas yang sama sekali tidak terasa istimewanya, tetapi sekarang jadi hal yang sangat istimewa. Jika bisa, penginnya pulang setiap bulan 🙂

Nah, sejak masuk kerja di awal Januari, aku sudah memelototi kalender. Aku melihat bulan-bulan mana yang memungkinkan untuk bisa pulang ke Solo. Ternyata ada beberapa kesempatan. Aku bisa pulang bulan Maret, atau April, Juni, atau Agustus. Bulan Desember adalah bulan wajib untuk pulang dan tidak bisa diganggu gugat 🙂

Rencana untuk pulang bulan Maret sudah disusun. Namun, sayangnya…tiba-tiba ada pengumuman dari gereja jika aku harus ikut retreat pekerja bertepatan dengan hari yang sudah kuimpikan. Sempat nangis karena aku sudah terlanjur janji dengan adikku terkecil bahwa aku mo pulang Maret nanti. Dia sudah merencanakan acara jalan-jalannya bersamaku. Tapi kenyataannya lain …

Namun, rancanganku bukanlah rancangan Sang Perencana Hari. Secara tidak terduga, hari Jumat pagi bos mengumumkan bahwa hari Senin kantor diliburkan. Sungguh tidak terduga karena bos semula keukeuh untuk tidak libur. Alasannya benar sih…karena kita sudah libur saat banjir selama 4 hari. Beliau takut jika ada tugas-tugas yang keteter. Ternyata pekerjaan bisa dikejar dan kita pun bisa menikmati libur.

Begitu pengumuman libur diberikan, segera aku telpon ibuku. Setelah mendapat persetujuan dari beliau, aku pun memesan tiket kereta. Semuanya beres dan Jumat malam pun aku sudah duduk di kereta yang membawaku menuju home sweet home.

Kepulangan yang tidak terencana ini terasa sangat istimewa. Aku bisa bertemu dengan ortu dan membicarakan masalah penting dalam hidupku. Aku bisa memanjakan adikku yang kecil dengan mengajaknya jalan ke beberapa tempat. Aku bisa membawakan buku untuk teman di kantor kerjaku yang lama. Ada kesempatan juga untuk mengunjungi kantor lama dan bertemu sahabat-sahabat lama di kantor itu karena kebetulan mereka tidak libur pas hari Senin itu. Juga bertemu dengan temanku yang memamerkan anak lelakinya yang pertama. Dan yang terpenting ada kesempatan istimewa saat membuat keputusan terindah bersama seorang sahabatku.

Kepulangan di bulan Februari ini adalah sesuatu yang teramat istimewa dalam hidupku. Tidak ada rencana sama sekali, tetapi setiap peristiwa yang terjadi mirip seperti rangkaian puzzle kecil yang disusun oleh Sang Perancang Agung. Meski tidak semua sahabat bisa dikunjungi, tetapi pertemuan dengan beberapa diantaranya sudah melegakan hati. Wah … jadi pengin pulang lagi ke Solo nih

Apa hal-hal istimewa yang Anda miliki saat ini? Genggamlah itu dan jangan sampai Anda menyesal setelah kehilangan salah satunya.