Archive | June 2006

Penjala Manusia

Dalam Matius 4:19, Yesus berkata kepada Simon Petrus dan Andreas: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Ayat itu membuat saya terusik. Mengapa Yesus meminta mereka untuk berpindah profesi untuk menjadi penjala manusia? Bukankah lebih menguntungkan untuk menjala ikan daripada menjala manusia? 🙂

Pernah saya berpikir bahwa melakukan pekerjaan nelayan adalah pekerjaan yang mudah. Tinggal menebar jala di tengah laut/danau, ber- ton-ton ikan pun bisa dijaring dan menghasilkan keuntungan melimpah. Namun apakah benar demikian?

Dalam Wikipedia, dijelaskan bahwa nelayan adalah istilah bagi orang- orang yang setiap harinya bekerja menangkap {ikan} maupun binatang laut lainnya di {laut}. Di negara-negara berkembang seperti di {Asia Tenggara} atau di {Afrika}, masih banyak nelayan yang menggunakan peralatan yang sederhana dalam menangkap ikan. Nelayan di negara- negara maju biasanya menggunakan peralatan modern dan {kapal} yang besar yang dilengkapi teknologi canggih. Beragam jenis kapal dan peralatannya tersebut mempunyai tujuan yang sama yaitu menangkap ikan yang bisa dijual dan menjadi sumber nafkah.

Lalu apa kaitannya dengan penjala manusia? Secara sekilas, analogi penjala ikan bisa dipakai untuk menggambarkan orang-orang yang saat ini sedang “menjala manusia” dengan memberitakan Kabar Baik.

Yang pertama, penjala ikan mengetahui kapan waktunya melaut dan tempat mana yang banyak ikannya. Sedangkan penjala manusia pun juga mempunyai sasaran yang akan didekatinya dan kapan waktu yang tepat untuk mendekati sasarannya.

Yang kedua, penjala ikan menggunakan alat-alat bantu untuk mengefektifkan pekerjaan mereka. Dari segi kapal, ada kapal motor cantrang dan kapal jenis mini purse seine yang digunakan oleh nelayan di Pekalongan. Selain itu, ada juga nelayan Desa Linau di Bengkulu yang menggunakan perahu kecil untuk mencari ikan. Seperti pepatah mengatakan “Lain ladang, lain belalang. Lain lubuk, lain ikannya”, maka lain daerah, lain pula sarana yang digunakan. Sama halnya dengan penjala manusia. Mereka menggunakan cara-cara yang sesuai dengan medan yang dilayaninya. Ada yang menggunakan traktat, memperdengarkan Alkitab Audio, membagikan buku tanpa warna, mengirimkan tenaga profesional Kristen, menyebarkan Injil via televisi dan internet, dan masih banyak cara lainnya.

Yang ketiga, melaut semalaman dan tidak mendapat ikan? Itu kejadian biasa yang dialami para nelayan dan tidak membuat mereka jera. Demikian halnya dalam memberitakan Injil. Kadang-kadang saat ber-PI tidak langsung bisa mengajak orang yang belum percaya itu untuk bertobat atau menerima Kristus. Sering butuh waktu dan doa ber-ulang- ulang untuk memenangkan orang tersebut.

Yang keempat, adanya kerja bersama dalam menangkap ikan saat melaut ataupun saat mengolah ikan tangkapan. Mereka tidak bisa bekerja sendiri. Seperti utusan Injil di berbagai penjuru dunia, mereka tidak bisa bekerja sendiri. Tentunya ada orang-orang yang mendukungnya dalam dana, doa, dan sebagainya.

Itu empat poin yang saya temukan tentang analogi penjala ikan. Masih perlu masukan-masukan untuk memoles ulasan ini dengan meninjau secara alkitabiah mengapa Yesus mengajak Simon Petrus dan Andreas untuk menjadi penjala manusia. Selamat menjala manusia!

Advertisements